Masjid Jami' Al-Hikmah

Masjid Jami' Al-Hikmah Masjid Al-Hikmah berperan aktif dalam penerapan Islam yang Rahmatan Lil Alaamiin...

"SHALAT"Sholat adalah ibadah paling krusial bagi muslim. Syariat-syariat lain dalam agama Islam datangnya selalu melalui...
12/03/2020

"SHALAT"

Sholat adalah ibadah paling krusial bagi muslim. Syariat-syariat lain dalam agama Islam datangnya selalu melalui wahyu dari Allah kepada Nabi. Kecuali sholat yang diperintahkan langsung oleh Allah kepada nabi tepat saat Nabi kita menerima perjalanan kehormatan Isro' Mi'roj setelah melaksanakan konferensi terhebat sepanjang sejarah kemanusiaan di Masjidil Aqsho. Pertemuan orang-orang pilihan terbaik, 120.000 Nabi dan Rasul.

Lalu Kenapa hanya shalat saja yg perintahnya diterima langsung oleh Nabi kita di langit, Sementara ibadah dan syariat yg lain tidak? Tentunya hal itu merupakan isyarat bahwa shalat adalah ibadah teragung dan filosofi lainnya, saat kita mengerjakan shalat, sebagai tatakramanya kita diharuskan untuk memi'rajkan ruh kita kala mulai takbirotul ihram, tepat saat Takbir, Allahu Akbar. Melupakan semua urusan kita, memusatkan konsentrasi dan jiwa kita seolah kita sedang secara live berkomunikasi dan menghadap Allah Ta'ala. Hal Itulah yang disebut dengan shalat yang khusyu, Sholat yg "me-langit-kan" jiwa kita dan melupakan seluruh problematika hidup kita saat itu. Makanya usai sholat kemudian kita salam, sebagai tanda bahwa jiwa kita telah "kembali" ke bumi untuk balik melanjutkan aktivitas sehari-hari.

Muslim yg bisa sholat seperti ini, bisa total memi'rajkan ruhnya kala sholat, itu yg bisa menikmati bagaimana esensi indahnya sholat. Dan sholat jenis inilah yg bisa menjaga perilaku, kepribadian, dan sikap seorang muslim dari hal-hal yg tak elok secara moral dan sosial. Tentu saja sebaliknya muslim yg meski sholatnya rajin tapi masih saja nakal, bisa jadi dia belum total memi'rajkan ruhnya. Meski secara tatacara syariat sholatnya telah sah dan kewajibannya gugur. Namun efek positif sholat itu masih belum merasuk pada jiwanya.

So Apakah kita telah menemukan esensi sholat dlm keseharian kita? Apakah kita telah mampu ekstase fly kala kita sholat? Atau standar kualitas sholat kita masih mengharukan itu-itu saja. Takbir, ngelamun ke sana kemari, tahu2 pak imam udah salam? Atau saat jadi makmum masbuk, gara2 sholatnya ngelamun malah lupa nggak tahu ketinggalan berapa, jadinya malah panik, nggak khusyu' blas? Ya kalau sholat kita masih gitu2 saja, jiwa kita "masih" di bumi, belum termi'rajkan dengan baik, maka wajar jika kita masih s**a nakal. Masih STMJ, Sholat Terus Maksiat Jalan. Dengan momentum isro miroj semoga menjadi momentum untuk menjadikan sholat dan diri kita lebih baik lagi. Meski baru sekedar memulainya dengan total ingat Allah saat takbir saja. Sebab bagaimanapun untuk menuju baik itu membutuhkan proses.

"Nabi Sulaiman dan Anak yang berbakti"Dikisahkan dalam kitab Irsyadul Ibad (hal. 155-156) pernah suatu ketika Nabi Sulai...
11/03/2020

"Nabi Sulaiman dan Anak yang berbakti"

Dikisahkan dalam kitab Irsyadul Ibad (hal. 155-156) pernah suatu ketika Nabi Sulaiman ‘alaihi salam mendapatkan perintah dari Allah ta’ala untuk pergi ke tepi laut (pantai)—di sana akan menemukan suatu hal yang luar biasa. Setelah mendengar perintah tersebut, Nabi Sulaiman ‘alaihi salam berangkat menuju pantai beserta rombongannya, yang terdiri dari golongan manusia dan jin.

Sesampainya di pantai, Nabi Sulaiman melihat ke kanan dan ke kiri mencari tau apa yang terjadi di sekitarnya, teringat perintah Allah bahwasanya ia akan menemukan suatu hal yang luar biasa. Beliau terus mencari tahu, menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, namun apa yang beliau lakukan belum bisa menjawab rasa penasaran yang ada dalam pikiranya. “Menyelamlah ke dalam laut, lalu katakan kepadaku apa yang kamu lihat di dalam sana,” pinta Nabi Sulaiman kepada Jin Ifrit.

Lalu Ifrit pun menyelam ke dalam laut, mencari tau apa yang terjadi di dalamnya. Beberapa waktu kemudian Ifrit muncul kedasar laut dan menghadap kepada Nabi Sulaiman. “Wahai Nabi Allah sesungguhnya saya sudah menyelam ke dalam laut yang sangat dalam, saya mencari tahu apa yang terjadi ke sana dan kemari, namun saya tidak menemukan apa pun di dalam sana.” ucap Ifrit memberi informasi kepada Nabi Sulaiman. “Menyelamlah ke dalam laut, lalu datanglah kepadaku serta beri tau apa yang sebenarnya terjadi” pinta Nabi Sulaiman kepada Ifrit yang lain untuk yang kedua kalinya. Menyelamlah Ifrit dan selang beberapa waktu Ifrit pun muncul dan menghadap kepada Nabi Sulaiman. Apa yang dikatakan Ifrit ini sama seperti perkatakann Ifrit yang pertama tadi. Masih belum puas dengan apa yang dikatakan Ifrit, Nabi Sulaiman memerintahkan Asif Barkhiya untuk berdoa kepada Allah agar memberi tahu apa yang terjadi di dalam laut. Asif Barkhiya adalah menteri Nabi Sulaiman yang disebut di dalam Al-Qur’an pada Surat An-Naml ayat 40. Dia juga seorang waliyullah yang doanya diijabah oleh Allah. “Beritahu kepadaku apa yang terjadi di dalam laut sana?” pinta Nabi Sulaiman kepada Asif Barkhiya. Asif pun berdoa kepada Allah untuk menunjukan apa yang terjadi. Setelah Asif Barkhiya berdoa, tiba-tiba datang sebuah benda berbentuk kubah yang mempunyai empat pintu. Satu pintu terbuat dari batu intan, satu pintu terbuat dari batu yaqut, satu lagi terbuat dari batu intan putih, dan satunya lagi tebuat dari batu aquamarine (zamrud) hijau. Semua pintu itu terbuka dan tidak ada satu tetes air pun yang masuk ke dalamnya, padahal benda tersebut berada di dalam laut yang sangat dalam sama seperti tiga kali perjalanan menyelamnya Ifrit yang pertama. Lalu, benda yang berbentuk kubah tersebut diserahkan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihi sallam. Tiba-tiba, di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang tampan, memakai baju yang serbaputih, dan bersih badannya. Pemuda itu sedang melakukan shalat, lalu Nabi Sulaiman masuk ke dalamnya dan memberikan salam kepada pemuda itu. Pemuda itu pun mempercepat shalatnya dan menjawab salam Nabi Sulaiman. “Sebab apa kau bisa berada di dasar laut ini?” tanya Nabi Sulaiman mengawali pembicaraan. “Wahai nabiyallah, sesungguhnya bapak saya adalah seorang laki-laki yang lumpuh dan ibu saya adalah seorang wanita yang buta. Saya merawat keduanya selama tujuh puluh tahun. Saya merawat keduanya dengan penuh kasih sayang. Ketika ajal menjemput ibu saya, dan berdoa kepada Allah ‘Ya Allah, panjangkanlah umur anakku dalam keadaan selalu takwa kepada-Mu’ dan ketika ayah saya wafat dia berdoa kepada Allah ‘Ya Allah, tempatkanlah anakku ini di tempat yang tidak ditemukan oleh setan’,” cerita pemuda itu kepada Nabi Sulaiman. Sejenak keduanya terdiam. “Setelah saya memakamkan kedua orang tua saya, saya berjalan-jalan ke tepi pantai untuk menghilangkan kesediahan saya. Lalu saya melihat kubah yang bercahaya, kubah tersebut sangat indah, saya masuk ke dalamnya untuk melihat keindahan kubah tersebut. Lalu datanglah malikat dari beberapa malaikat. Malaikat tadi membawa kubah tersebut ke dalam laut, sedangkan saya berada di dalamnya” ucap pemuda itu melanjutkan ceritanya. “Pada zaman siapa kamu mendatangi pantai?” tanya Nabi Sulaiman penuh penasaran. “Pada zaman Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam,” jawab pemuda itu. Sejenak Nabi Sulaiman terdiam, mengingat kembali sejarah. Begitu terkejutnya Nabi Sulaiman ketika mengetahui bahwa jarak zamannya dengan zaman Nabi Ibrahim itu adalah dua ribu empat ratus tahun. Begitu panjangnya umur pemuda dan yang anehnya lagi tidak dijumpai satu helai rambutnya yang beruban. “Lalu, bagaimana kamu bisa mendapatkan makan dan minun?” tanya Nabi Sulaiman. “Wahai nabiyallah, setiap hari datang kepadaku seekor burung yang membawakanku makanan sebesar kepala manusia. saya memakanya, saya merasakan kenikmatan yang belum pernah saya rasakan di dunia, setelah saya memakannya, saya tidak lagi merasakan lapar, haus, gerah, dingin, tidur, kantuk dan sifat-sifat yang dirasakn oleh manusia pada umumnya serta saya juga tidak merasakan kesepian,” jawab pemuda itu kepada Nabi Sulaiman. “Maukah kamu ikut denganku di kerajaanku atau kamu ingin kembali kepada tempatmu?” Nabi Sulaiman memberikan penawaran kepada pemuda itu. “Wahai nabiyallah, tolong kembalikan aku ke tempat semula,” pinta pemuda itu kepada Nabi Sulaiman. Lalu Nabi Sulaiman memerintahkan Asif Barkhiya untuk mengembalikan pemuda itu ke tempat semula, saat itu juga pemuda itu hilang dari pandangan Nabi Sulaiman dan rombongan. Dari kisah tersebut kita bisa mengambil hikmah bahwasanya doa orang tua itu sangatlah mustajab dan tidak bisa diragukan lagi. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang tua pada anaknya,” (HR Ibnu Majah). Oleh karena itu, kita sebagai anak seharusnya berbakti kepada orang tua. Minimal dengan tidak membuatnya sakit hati, atau syukur-syukur bisa membuat mereka bangga, serta merawatnya dengan kasih sayang, dan masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan. Jangan sampai kita menyakiti hati mereka dan selalu mengharapkan ridha dari orang tua. Dari Abdullah bin ‘Amru radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua” (HR. Hakin, ath-Thabrani)

Riyan Hidayatulloh, santri Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggungharjo, Grobogan

"Umar bin Khattab Tak Menghukum Orang yang Terpaksa Mencuri"Suatu ketika orang-orang membawa seorang wanita yang diduga ...
05/01/2020

"Umar bin Khattab Tak Menghukum Orang yang Terpaksa Mencuri"

Suatu ketika orang-orang membawa seorang wanita yang diduga telah melakukan zina kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Setelah berada di hadapan Sang Khalifah, wanita tersebut mengakui bahwa dirinya telah berzina dengan seorang temannya. Seketika itu, Khalifah Umar bin Khattab langsung memerintahkan agar wanita tersebut dihukum rajam (hukuman mati dengan dilempari batu). Namun Sayyidina Ali bin Abi Thalib meminta Khalifah Umar memberikan kesempatan kepada wanita tersebut agar menyampaikan penjelasannya. Perihal apa alasan yang membuatnya melakukan perbuatan zina. Khalifah Umar menyetujui usulan tersebut dan wanita itu mulai menjelaskan kronologinya. Kata wanita itu, dia kehausan dalam sebuah perjalanan. Tidak air minum padanya dan tidak ada air susu pada untanya. Ketika itu, ia kemudian meminta minum pada seorang temannya, yang untanya masih ada air susunya. Temannya itu bersedia memberikannya minum asal dia ‘menyerahkan diri (diperkosa).’

Mendengar jawaban seperti itu, wanita tersebut langsung menolaknya. Bagaimana mungkin dia harus menyerahkan diri untuk mendapatkan seteguk air minum. Ia meminta minum sebanyak tiga kali, namun jawaban temannya tetap sama; ia akan memberi air susu unta jika mau menyerahkan diri. Hingga akhirnya wanita tersebut merasa tak berdaya lagi. Merasa begitu payah dan sudah akan mati kalau tidak segera meneguk air susu tersebut. Lalu kemudian dia menuruti permintaan temannya itu dan akhirnya mendapatkan air minum. Riwayat lain menyebutkan kalau wanita tersebut meminta minum kepada seorang gembala. Khalifah Umar menggelar musyawarah usai mendengarkan penjelasan dari wanita tersebut. Apakah tetap menjatuhinya hukuman rajam atau melepaskannya atau bagaimana. Ali bin Abi Thalib yang ikut dalam musyawarah menyakinkan sang khalifah bahwa wanita tersebut tidak lah berdosa karena dia melakukan itu karena terpaksa dan tidak sengaja hendak melanggar atau melampaui batas. Khalifah Umar akhirnya membebaskan wanita tersebut. Demikian diceritakan dalam Umar bin Khattab (Muhammad Husain Haekal, 2015).

Di lain waktu, Khalifah Umar juga mengampuni pencuri yang mencuri unta karena kelaparan. Kisahnya, suatu hari beberapa pembantu Hatib bin Abi Balta’ah ketahuan mencuri seekor unta milik orang dari Muzainah. Kusayyir bin As-Salt kemudian meminta Khalifah Umar untuk menjatuhkan hukuman potong tangan pada pencuri tersebut. Singkat cerita, Khalifah Umar melepaskan beberapa pembantu Hatib tersebut dari tuduhan pencurian setelah mengetahui kalau mereka melakukan itu untuk sekadar mencari hidup. Amirul Mukminin bahkan meminta Abdurrahman, anak Hatib, untuk membayar dua kali lipat harga unta orang Muzainah yang dicuri beberapa pembantu Hatib tersebut. “Pergilah Abdurrahman dan berikan kepadanya (orang Muzainah pemilik unta) delapan ratus, dan bebaskan anak-anak muda itu pencuri itu dari tuduhan pencurian, sebab Hatib yang telah memaksa mereka mencuri: mereka dalam kelaparan dan dan sekadar mencari hidup,” kata Khalifah Umar. Khalifah Umar itu dikenal sebagai orang yang tidak memberlakukan hukum karena darurat atau terpaksa. Buktinya, dia membebaskan seorang wanita yang terpaksa berzina dan sejumlah pembantu Hatib yang mencuri unta karena dipaksa mencuri. Dia mendasarkan argumennya pada Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 173: “…jika dalam keadaan terpaksa bukan sengaja hendak melanggar atau mau melampaui batas maka tidaklah ia berdosa. Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih.” Pada masanya, Khalifah Umar bin Khattab melakukan banyak ijtihad terkait hukum Islam. Dia banyak mengeluarkan ‘fatwa’ sampai sesuatu baru yang sama sekali belum muncul atau belum diputuskan pada zaman Nabi Muhammad. Misalnya, menghentikan pembagian harta rampasan perang berupa tanah milik rakyat Syam dan Irak—padahal Nabi membagikan tanah Khaibar kepada mereka yang ikut menaklukkannya, menghentikan pembagian zakat kepada mualaf—padahal mualaf termasuk asnaf delapan, mengodifikasi Al-Qur’an, dan lain sebagainya.

KETIKA SYECH ABDUL QODIR JAILANI DIRAMPOKSuatu hari Abdul Qadir yang masih belia meminta izin ibundanya untuk pergi ke k...
24/10/2019

KETIKA SYECH ABDUL QODIR JAILANI DIRAMPOK

Suatu hari Abdul Qadir yang masih belia meminta izin ibundanya untuk pergi ke kota Bagdad. Bocah ini ingin sekali mengunjungi rumah orang-orang saleh di sana dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka. Sang ibunda merestui. Diberikanlah kepada Abdul Qadir empat puluh dinar sebagai bekal perjalanan. Agar aman, uang disimpan di sebuah saku yang sengaja dibuat di posisi bawah ketiak. Sang ibunda tak lupa berpesan kepada Abdul Qadir untuk senantiasa berkata benar dalam setiap keadaan. Ia perhatikan betul pesan tersebut, lalu ia keluar dengan mengucapkan salam terakhir. “Pergilah, aku sudah menitipkan keselamatanmu pada Allah agar kamu memperoleh pemeliharaan-Nya,” pinta ibunda Abdul Qadir. Bocah pemberani itu pun pergi bersama rombongan kafilah unta yang juga sedang menuju ke kota Bagdad. Ketika melintasi suatu tempat bernama Hamdan, tiba-tiba enam puluh orang pengendara kuda menghampiri lalu merampas seluruh harta rombongan kafilah. Yang unik, tak satu pun dari perampok itu menghampiri Abdul Qadir. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka mencoba bertanya kepadanya, “Hai orang fakir, apa yang kamu bawa?” “Aku membawa empat puluh dinar,” jawab Abdul Qadir polos. “Di mana kamu meletakkannya?” “Aku letakkan di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.” Perampok itu tak percaya dan mengira Abdul Qadir sedang meledeknya. Ia meninggalkan bocah laki-laki itu. Selang beberapa saat, datang lagi salah satu anggota mereka yang melontarkan pertanyaan yang sama. Abdul Qadir kembali menjawab dengan apa adanya. Lagi-lagi, perkataan jujurnya tak mendapat respon serius dan si perampok ngelonyor pergi begitu saja. Pemimpin gerombolan perampok tersebut heran ketika dua anak buahnya menceritakan jawaban Abdul Qadir. “Panggil Abdul Qadir ke sini!” Perintahnya. “Apa yang kamu bawa?” Tanya kepala perampok itu. “Empat puluh dinar.” “Di mana empat puluh dinar itu sekarang?” “Ada di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.” Benar. Setelah kepala perampok memerintah para anak buah menggeledah ketiak Abdul Qadir, ditemukanlah uang sebanyak empat puluh dinar. Sikap Abdul Qadir itu membuat para perampok geleng-geleng kepala. Seandainya ia berbohong, para perampok tak akan tahu apalagi penampilan Abdul Qadir saat itu amat sederhana layaknya orang miskin. “Apa yang mendorongmu mengaku dengan sebenarnya?” “Ibuku memerintahkan untuk berkata benar. Aku tak berani durhaka kepadanya,” jawab Abdul Qadir. Pemimpin perampok itu menangis, seperti sedang dihantam rasa penyesalan yang mendalam. “Engkau tidak berani ingkar terhadap janji ibumu, sedangkan aku sudah bertahun-tahun mengingkari janji Tuhanku.” Dedengkot perampok itu pun menyatakan tobat di hadapan Abdul Qadir, bocah kecil yang kelak namanya harum di mata dunia sebagai Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Drama pertobatan ini lantas diikuti para anak buah si pemimpin perampok secara massal. Kisah ini diceritakan dalam kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syekh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibari, yang mengutip cerita dari al-Yafi’i, dari Abu Abdillah Muhammad bin Muqatil, dari Syekh abdul Qadir al-Jailani.

TANGIS SANG KIAI ATAS  KEMATIAN BURUNGNYASeorang kiai memiliki seekor burung Beo yang sangat cerdas. Burung itu mampu me...
13/10/2019

TANGIS SANG KIAI ATAS KEMATIAN BURUNGNYA

Seorang kiai memiliki seekor burung Beo yang sangat cerdas. Burung itu mampu menirukan berbagai macam suara termasuk mampu berkata-kata layaknya manusia. Sang kiai pun melatih burung kesayangannya untuk mengucapkan kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah. Dalam waktu singkat burung kesayangannya ini mampu mengucapkan kalimat tauhid dengan fasih dan lancar. Setiap hari pun sang burung terus mengucapkan kalimat tauhid dan menghiasi hari-hari kediaman sang kiai. Suasana pun semakin sejuk dan semakin menjadikan sang kiai tambah cinta kepada sang burung. Namun tiba-tiba suatu hari terdengar suara "keak… keak… keak!!" yang terdengar oleh sang kiai. Bergegas ia menuju sumber suara yang terdengar dari tempat biasa ia menempatkan burung Beo nya setiap hari. Alangkah kagetnya sang kiai. Seekor kucing telah menerkam dan memakan burung kesayangannya sampai terdengar suara parau terakhir dari sang burung. Sejak kematian burung Beo nya, sang kiai pun jadi sering terlihat murung. Ia pun sering mengunci dirinya dalam kamar pribadinya dan jarang mengajak para santrinya berbicara. Kondisi ini membuat para santri heran dan bersedih. Akhirnya, para santri pun sepakat untuk mencari ganti burung Beo kesayangan kiai dengan burung lainnya yang lebih bagus. Mereka sepakat untuk mengumpulkan uang dan membelikannya di pasar burung agar sang kiai tidak bersedih dan bermuram durja. "Pak kiai...," ucap salah satu santri tertua mengawali niatnya menyampaikan hasil kesepakatan bersama para santri lainnya. "Kami sangat bersedih dengan kematian burung Beo pak kiai... izinkanlah kami membeli burung Beo yang baru agar pak kiai tidak terus menerus bersedih hati!” ungkap sang santri sambil menundukkan kepala karena merasa takut apabila sang kiai tidak berkenan. Sang kiai menghela nafas seolah ingin melepaskan beban yang ia rasakan selama ini. Kemudian ia pun memberikan penjelasan kenapa ia murung dan mengunci diri dalam kamar setelah kematian burung Beo nya. "Wahai para santriku... bukannya aku sedih dengan matinya burung beo kesayanganku. Bukannya aku tidak ingin mencari ganti burung beo yang lebih baik dan lebih pintar. Terus terang aku tidak sesedih itu dengan matinya burung Beo itu," kata sang kiai yang membuat semakin heran para santrinya. Setelah terdiam beberapa lama, sang kiai melanjutkan ungkapan hatinya kepada para santri yang memenuhi aula tempat mereka biasanya mengaji. "Yang aku sedihkan adalah isyarat yang diberikan Allah SWT lewat kematian burung Beo itu. Coba kalian renungkan, burung Beo itu telah fasih mengatakan Laa Ilaha Illallah. Tetapi saat diterkam kucing dan mati, yang terakhir keluar dari mulutnya adalah bunyi keak.. keak.. keak!" ungkapnya. "Aku takut jika nasibku nanti ketika dipanggil Allah kembali kepadaNya akan seperti burung Beo itu. Semasa hidup biasa mendzikirkan kalimat tayyibah itu, tetapi ketika meninggal dunia mulut ini tidak mengucapankan kalimat itu. Malah mengucapkan yang lainnya,” sambungnya. Para santri pun tertunduk semua sembari merenungi perkataan sang kiai. Tak terasa air mata para santri keluar sambil lirih terdengar suara istighfar di ruang tersebut. Semoga kita diberikan rahmat Allah SWT dan kembali kepadaNya dalam keadaan Husnul Khatimah. Amin.

"Hukum mengambil uang suami tanpa izin"Memenuhi kebutuhan istri merupakan kewajiban utama seorang suami. Kebutuhan yang ...
07/10/2019

"Hukum mengambil uang suami tanpa izin"

Memenuhi kebutuhan istri merupakan kewajiban utama seorang suami. Kebutuhan yang dimaksud tidak hanya kebutuhan materi, tapi juga kebutuhan nonmateri. Selain mencukupi kebutuhan istri, seorang suami juga mesti menafkahi anaknya sampai mereka dewasa dan mandiri. Kedua hal ini sudah menjadi tanggung jawab suami dan konsekuensi berumah tangga.

Perjalanan roda rumah tangga tentu tidak selamanya mulus. Sesekali terdapat rintangan dan halangan yang menyebabkan suami marah, istri merajuk, dan anak yang nakal. Semua tantangan ini perlu dihadapi dengan penuh ketabahan dan keseabaran.

Salah satu problem rumah tangga yang kerap kali dihadapi ialah problem nafkah. Kaum wanita (istri) berada di garda depan untuk membela urusan nafkah tersebut karena terkadang mereka s**a ditelantarkan. Nafkahnya kurang, dan tidak cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari.

Di saat berada dalam posisi ini, seorang istri terpaksa harus mengambil uang suami tanpa izin darinya. Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan lahiriahnya. Bagaimana hukumnya?

Kasus ini pernah menimpa pasangan suami-istri, Hindun dan Abu Sufyan. Abu Sufyan diceritakan sebagai suami yang pelit, sehingga pada suatu hari Hindun terpaksa mengambil diam-diam uang suaminya. Karena merasa bersalah dan tidak tahu hukumnya, Hindun bertanya kepada Nabi SAW. Berikut penggalan kisahnya:

عن عائشة قالت: جاءت هند إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقالت: يارسول الله إن أبا سفيان رجل شحيح، لايعطيني ما يكفيني وولدي، إلا ما أخذت من ماله، وهو لايعلم، فقال: خذي مايكفيك وولدك بالمعروف.

Artinya, “Aisyah RA menceritakan bahwa Hindun pernah bertanya kepada Nabi SAW. ‘Wahai Rasulullah SAW, sesungguhnya Abu Sufyan suami yang pelit. Nafkah yang diberikannya kepadaku dan anakku tidak cukup sehingga aku terpaksa mengambil uang tanpa sepengetahuannya,’ kata Hindun. ‘Ambil secukupnya untuk kebutuhanmu dan anakmu,’” jawab Nabi SAW, (HR Al-Bukhari, Ibnu Majah, dan lain-lain).

Seharusnya seorang suami mengerti kondisi dan kebutuhan istri dan anaknya. Apabila ia tidak memberi nafkah yang cukup, sementara uangnya banyak, maka seorang istri diperbolehkan mengambil harta suami meskipun tanpa izin darinya sekedar untuk mencukupi kebutuhan harian.

Para ulama semisal Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menafsirkan kata “bil ma’ruf” dalam hadis ini dengan standar umum yang berlaku di daerah masing-masing. Jadi, kendati diperbolehkan mengambil uang suami tanpa izin, tapi tidak boleh berlebih-lebihan. Sekadarnya saja. Di sini istri juga mesti berhati-hati untuk menggunakan uang, terlebih lagi pengguna kartu kredit yang tagihannya dilimpahkan ke suami. Wallahu a’lam

MIMPI GUSDUR TENTANG ULAMA BERNAMA GUS MUWAFIQ MENJADI KENYATAANKETIKA Gus Dur masih menjadi Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim...
17/07/2019

MIMPI GUSDUR TENTANG ULAMA BERNAMA GUS MUWAFIQ MENJADI KENYATAAN

KETIKA Gus Dur masih menjadi Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Asy'ari menemui dalam sebuah mimpi untuk membentuk sebuah badan khusus warga NU agar bisa berperan aktif dalam arena politik praktis. Lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa era Gus Dur adalah atas perintah ini.
Sebelum membentuk partai tersebut, Mbah Hasyim memerintahkan Gus Dur agar menemukan kiai bernama "KH. Ahmad Muwaffiq". PKB tidak akan kuat berdiri tanpa nama tersebut.Lama Gus Dur mencari-cari nama tersebut di Yogyakarta.

Gus Dur bertanya kepada para kiai NU yang ada di Yogyakarta waktu itu, dan semua menjawab tidak mengenal nama tersebut.

"Tidak ada nama kiai di Jogja bernama Ahmad Muwaffiq, Gus," kata para kiai.

"Ada, pasti ada. Mbah Hasyim yang bilang kok," jawab Gus Dur.

Terang saja mereka tidak akan menemukan sosok kiai seperti nama yang dicari Gus Dur. Nama yang kini populer dengan sebutan Gus Muwaffiq, saat itu masih menjadi aktivis mahasiswa, yang biasa bercelana jins komprang suwek-suwek, berambut gondrong dan sangat s**a berkegiatan seni musik di kampus.

"Siapa itu?"Tanya Gus Dur kepada Agus Winarto (alm) saat mengisi sebuah acara seminar di kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, suatu kali.

_"Muwaffiq"._

"Lengkapnya siapa?" Tanya Gus Dur lagi._

_"Ahmad Muwaffiq," jawab Agus, ketua panitia acara seminar.

"Oh, ini dia yang saya cari".

Usai seminar, bergegas Gus Dur mendatangi Ahmad Muwaffiq muda yang terlihat sedang sibuk membantu panitia acara. Dan tanpa dinyana, Gus Dur mencium tangannya. Saat itulah, Gus Dur meminta Ahmad Muwaffiq muda untuk berangkat ke Jakarta, dengan sebuah tiket yang sudah disediakan.
justify;">
Di Jakarta, Ahmad Muwaffiq muda diminta Gus Dur agar ziarah ke Makam Syaikh Isma'il di Malaka, Malaysia, dan tirakat beberapa saat sebagaimana perintah Mbah Hasyim Asy'ari. Kata Gus Dur, hanya keturunan Syaikh Isma'il saja yang memiliki frekuensi tinggi bisa membuka "kunci tanah Jawa".

Melalui Ahmad Muwaffiq muda itulah Gus Dur ingin membuka "kunci tanah Jawa" agar direstui niat membentuk partai. Ahmad Muwaffiq muda disebut-sebut sebagai pembukanya (wasilah) atas terbukanya "kunci" tersebut, agar berhasil menjalankan dawuh Mbah Hasyim.

Syaikh Isma'il ini dikenal para ulama'-auliya' sebagai peletak "pathok" Nusantara sehingga proses islamisasi berjalan lancar, seperti tampak hasilnya sekarang ini. Tiga bulan lamanya Ahmad Muwaffiq muda tirakat di makam simbahnya tersebut, di Malaka. Sulitnya Syaikh Isma'il ditemui membuat tirakat semakin lama.

Setelah dari Malaka, Ahmad Muwaffiq muda diperintah Gus Dur untuk keliling silaturrahim ke beberapa kiai, utamanya di Jawa Timur, untuk meyakinkan agar mau membentuk kepengurusan partai yang baru terbentuk: PKB.

Pengalaman Ahmad Muwaffiq muda menjadi aktivis di PMII digunakan semaksimal mungkin sehingga berhasil mendorong terbentuknya PKB sebagai aspiran politik partai kiai dan warga NU, dan sempat menggaet massa yang lumayan banyak hingga mengantarkan Gus Dur menjadi seorang presiden di Republik Indonesia.

Gus Muwaffiq kemudian diangkat Gus Dur menjadi syuriah PKB Provinsi Yogyakarta dengan Ketua Partainya, Agus Winarto, sahabat kampus Gus Muwaffiq di IAIN Yogyakarta. Saat Gus Dur menjadi presiden pun, Gus Muwaffiq masih nempel sebagai penderek yang sering menemani Gus Dur sebagai pendekar.

Tahun 2006, Ahmad Muwaffiq mendapatkan perintah khusus dari Gus Dur agar menggantikan beliau muter-muter ke desa, menjadi penceramah, sebagaimana Gus Dur dulu juga melakukannya. Bakat ceramah Gus Muwaffiq sudah ada sejak kuliah. Ia biasa ceramah dalam acara-acara KKN yang digelar mahasiswa dan sering mengisi PKD di PMII.

Kini, nama yang dulu dicari Gus Dur saat bertemu Mbah Hasyim di mimpi, kala itu, sudah dikenal publik dengan sebutan Gus Muwaffiq, dengan nama lengkap, KH. Ahmad Muwaffiq. Banyak santri Yakarim (santri desa) yang setia mendengerakan ceramah Gus Muwaffiq. [badriologi.com]

Keterangan:
Oleh M Abdullah Badri

Makna dibalik nama "INDONESIA" Benarkah nama negara kita INDONESIA diberi nama sesuai degan akronim para WALI SONGO.?? 1...
11/07/2019

Makna dibalik nama "INDONESIA"

Benarkah nama negara kita INDONESIA diberi nama sesuai degan akronim para WALI SONGO.??

1. * I * Ibrahim Malik
(Sunan Gresik)
2. * N * Nawai Macdhum
(Sunan Bonang)
3. * D * Dorojatun R Khosim
(Sunan Drajat)
4. * O * Oesman R Djafar Sodiq
(Sunan Kudus)
5. * N * Ngampel R Rahmat
(Sunan Ampel)
6. * E * .Eka Syarif Hidayatullah
(SunanGunungJati)
7. * S * Syaid Umar
(Sunan Muria)
8. * I * Isyhaq Ainul Yaqin
( Sunan Giri)
9. * A * Aburahman R Syahid
(Sunan Kalijaga)

Jumlah huruf INDONESIA 9 sesuai dgn jumlah Wali/Alim Ulama dikala itu = WaliSongo atau 9 Wali.
monggo disimak...
bareng bareng

MISTERI DIBALIK NAMA
"INDONESIA"
Pernahkah Kita Menghitung Angka dari
Kata "INDONESIA" ???
MASYA'ALLAH..
Akan di dapat Keajaiban yang luar biasa,
Mari, Kita coba Hitung :
Abjad = Urutan Angka
I : 9
N : 14
D : 4
O : 15
N : 14
E : 5
S : 19
I : 9
A : 1
Dari Semua Angka, yang Muncul Hanya
Angka "1-9-4-5",
Tdk ada angka 2,3,6,7,8
Tentu ini Bukan Kebetulan...
Ini adalah Kehendak dan Karunia dari ALLOH SUBHAANALLAHU WA TA LA.

Mari Coba Kita Jumlahkan semua Angka dari
Kata "INDONESIA", jumlahnya "90",
Dalam AL QURAN, Surat ke-90 adalah
Surat Al-Balad, yang Artinya "NEGARA"
Tentu ini Bukan Suatu Kebetulan ini semua Karunia yang Luar Biasa dari Allah Subhaanallaahu wa taala.
Mungkin ini Juga Jawaban pada HADITS ROSULLULOH yang Mengatakan
Bahwa akan ada Negeri di atas Awan Bernama
Samudra...yang di-Kelilingi Air dan menghasilkan Banyak Ulama...
Ternyata Negeri itu adalah...
INDONESIA
Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur

Mari Indonesiakan Indonesia kita,,
Kita wujudkan Rohmatal lil 'aalamiin...

WallAhu a'lam Bis ShAwaab.. 🇮🇩

GUS MUS DAN KISAH PROPOSAL UNTUK PEJABAT untuk "Renovasi Masjid" oleh KH Yahya Cholil Staquf“Abahmu pernah rasan-rasan, ...
11/07/2019

GUS MUS DAN KISAH PROPOSAL UNTUK PEJABAT untuk "Renovasi Masjid"

oleh KH Yahya Cholil Staquf

“Abahmu pernah rasan-rasan, kepingin merenovasi langggar”, kata paman saya, Kyai Mustofa Bisri, “tapi sampai meninggalnya belum kesampaian”.

Saya tercenung. Itu bukan kalimat sharih, tapi mafhumnya jelas: perintah. Dan perintah yang musykil. Betapa tidak? Saya tidak punya uang. Dan saya bukan profesional dalam bidang tertentu yang dapat menghasilkan uang –saya baru saja “memensiunkan diri” dari profesi politik dan belum menemukan profesi penggantinya.

Hanyut dalam cara berpikir yang “normal” dari seorang “gus kontemporer” seperti saya, segera muncul dalam benak saya gagasan untuk mencari bantuan dari sumber-sumber yang paling populer di kalangan pondok pesantren dewasa ini, yaitu para aktor pemangku kepentingan politik, khususnya pejabat-pejabat pemerintahan. Dan saya merasa punya keunggulan dalam hal itu, mengingat saya pernah aktif dalam politik hingga ke puncak arena permainannya (menjadi Juru Bicara Presiden).

Maka segera p**alah saya kerjakan persiapan yang lazim: menyusun proposal dan surat permohonan bantuan dengan alamat kontak-kontak politik yang saya miliki di kalangan pejabat pemerintahan. Di bagian bawah proposal dan surat-surat permohonan itu saya sediakan ruang untuk tanda tangan paman saya: K.H. A. Mustofa Bisri. Pikir saya, ketokohan paman saya jelas punya harga mahal untuk “dijual”. Saya suruh salah seorang sepupu yang telah saya tunjuk sebagai Ketua Panitia untuk menindaklanjuti dokumen-dokumen itu, termasuk meminta tanda tangan dari paman saya kemudian mengirim ke alamat-alamat yang telah saya tentukan daftarnya.

Satu-dua hari tanpa laporan, saya pikir urusan sudah beres. Tinggal tunggu jawaban. Yang datang kemudian adalah undangan untuk “berkumpul di rumah paman saya” selepas ‘isya. Tak ada informasi untuk keperluan apa. Saya hanya menduga, paman saya hendak mengadakan manakiban untuk suatu hajat tertentu, entah apa.

Agak terlambat saya datang, di ruang tamu telah hadir kyai-kyai dan ustadz-ustadz yang mengajar di pesantren kami, beserta seluruh jajaran Pengurus Pondok, lengkap. Paman saya sendiri belum keluar. Saya segera merasa aneh ketika saya dapati, tak seorang pun yang hadir mengetahui keperluan pertemuan malam itu. Tak ada p**a suguhan-suguhan khusus seperti lazimnya orang punya hajat. Sepupu saya, Si Ketua Panitia, yang ditugasi menyampaikan undangan pertemuan, hanya “embah-embuh”. Malah bolak-balik keluar-masuk ruangan, seperti sibuk ini-itu, tapi tak jelas urusannya. Sejurus-dua-jurus kami menunggu, barulah paman saya muncul. Perasaan aneh menghebat, diikuti ketegangan, melihat raut muka paman saya tidak seperti biasanya. Setahu saya, paman saya senantiasa memperlihatkan wajah cerah setiap menemui tamu. Kecuali malam itu. Wajahnya muram. Jelas-jelas menampakkan kegusaran. Semua yang hadir menyadari ketidaklaziman itu sehingga ketegangan pun merata.

Setelah duduk, tanpa didahului basa-basi maupun bacaan fatihah untuk membuka pertemuan, paman saya langsung meluncurkan kalimat-kalimat tajam, jelas-jelas ditujukan kepada saya. Seandainya saya tidak mengenal beliau, pasti saya ketakutan setengah mati. Ketakutan yang jelas tampak pada wajah-wajah mereka yang hadir. Seorang pengurus pondok bahkan kelihatan amat menderita karena ngampet semaput.

Tapi saya kenal betul paman saya ini. Saya sudah hafal segala kasih-sayangnya. Maka yang lantas mengembang di hati saya adalah gairah belajar yang khusyu’.
“Jangan sembarangan mencari uang!” kata paman saya. Iramanya datar, tapi nadanya tajam menusuk. Semua orang menunduk.

“Kalau cuma pengen bangunan pondok yang bagus-bagus, ngapain nunggu awakmu?” kata beliau lagi, “apa dikira yang punya kenalan pejabat-pejabat di sini baru awakmu? Abahmu dan embahmu tidak? Kalau mau uangnya pejabat, dari dulu juga bisa!”

Terus terang, saya tercekat. Yang ini melubangi jantung saya betul. Embah saya, Kyai Bisri Mustofa, adalah syuriyah NU dan anggota Konstituante, kemudian anggota MPR hingga meninggalnya; ayah saya, Kyai Cholil Bisri, Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB dan Wakil Ketua MPR RI hingga meninggalnya; saya cuma kecoak dihadapan mereka. Saya kian tunduk melipat punggung. Ruangan membeku. Pikiran saya galau. Tak sempat lagi saya mengingat untuk mengecek, apakah pengurus pondok yang tadi itu sudah semaput atau belum.

“Teman-teman itu sendiri (maksud saya, pejabat-pejabat itu) yang menawari kok, Paklik”, saya nyeletuk. Suara saya mengambang. Tak jelas tujuannya. Mungkin sekedar usaha mencairkan kebekuan. Tapi sia-sia.

“Mereka menawari karena punya kepentingan!” sergah paman saya. Saya kehilangan semua kata-kata.

“Embahmu dan abahmu tidak pernah mementingkan bangunan”, beliau melanjutkan, “yang penting barokah. Jadi, hati-hatilah mencari uang. Tak ada gunanya punya macam-macam kalau tidak barokah”.

Paman saya merogoh saku.

“Nih”, katanya, lalu menyodorkan sebuah buku kecil: buku tabungan, “itu uangku sendiri, kucari-cari sendiri, kukumpul-kumpulkan sendiri. Halal. Pakai itu!”

Paman saya berdiri, menyingkap gorden pembatas ruang tamu lebar-lebar. Dibalik gorden itu meja makan penuh hidangan.

“Ayo makan! Makan!”

Saya pastikan, semua orang menghela napas lega. Saya intip buku tabungan itu, isinya 150 juta rupiah. Saya menelan ludah. Perkiraan ongkos bangunan yang akan saya bikin mencapai lebih dari 800 juta. Ya sudahlah, pikir saya, bagaimana nanti saja.

Address

Jalan Nusa Indah Raya No. 68 Way Dadi Baru
Bandar
35131

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Masjid Jami' Al-Hikmah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Place Of Worship

Send a message to Masjid Jami' Al-Hikmah:

Share