UKMF IBROH

UKMF IBROH UKMF IBROH "Luruskan Niat Satukan Langkah Eratkan Ukhuwah"

05/02/2016

Kisah Sahabat Nabi
Salman Al Farisi Ra
Salman berasal dari Isfahan, suatu daerah di bawah kekuasaan Kisra Persia, yang mayoritas beragama Majusi, kaum penyembah api. Ayahnya seorang pejabat setingkat bupati yang amat menyayanginya, dan ia diberikan tugas sebagai penjaga api suci, yang bertanggung jawab agar api sesembahan tetap menyala, tidak sampai padam. Sebuah tugas mulia dalam agama Majusi.

Jalan yang dilaluinya untuk memperoleh hidayah cukup berliku. Berawal dari ketertarikannya pada cara ibadah orang Nashrani, ia masuk agama Nashrani. Orang tuanya marah dan merantainya, tapi ia berhasil kabur dan mengikuti rombongan orang-orang Nashrani ke Syiria. Ia tinggal di gereja mengikuti seorang uskup sebagai pelayan, sekaligus belajar lebih dalam tentang agama barunya itu. Sayangnya uskup tersebut mengumpulkan sedekah untuk kepentingan pribadinya. Untungnya setelah uskup ini meninggal, sebagai penggantinya diangkat seorang yang saleh, sehingga ia memperoleh banyak kemajuan secara rohaniah. Ketika uskup tersebut akan meninggal, ia menyarankan Salman untuk menemui seorang pendeta di Mosul, karena ia melihat tidak ada orang yang cukup pantas dan baik sebagai penggantinya untuk gereja tersebut.

Salman berangkat ke Mosulmenemui pendeta yang ditunjukkan uskup sambil menceritakan pengalaman dan pencariannya, dan ia diterima dengan baik. Sama seperti sang uskup sebelumnya, ketika akan meninggal, pendetatersebut menyarankannya untuk tinggal bersama seorang saleh di Nasibin. Dan menjelang ajal, orang saleh di Nasibin inipun menyarankan untuk menemui seorang pemimpin yang saleh di Amuria, suatu kotawilayah Romawi.

Salman tinggal di Amuria dengan pemimpin yang saleh ini beberapa waktu lamanya. Sebagai bekal hidupnya ia memelihara beberapa ekor sapi dan kambing. Menjelang ajal sang Pemimpin Amuria itu, lagi-lagi Salman bertanya tentang siapa yang pantas diikuti dan bisa membimbingnya, pemimpin yang saleh ini berkata, "Wahai anakku, tak ada seorangpun yang kukenal yang sama keadaannya dengan kita, yang dapat kupercayakan engkau kepadanya. Tetapi sekarang telah dekat waktunya kebangkitan seorang nabi yang mengikuti agamaIbrahim secara murni. Ia nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan berada di antara dua bidangtanah yang berbatu-batu hitam. Seandainya engkau dapat kesana, temuilah dia. Ia mempunyai tanda-tanda yangjelas dan gamblang, ia tidak mau makan sedekah, tetapi ia bersedia menerima atau memakan hadiah yang diberikan kepadanya. Ia mempunyai cap kenabian di pundaknya, yang jika engkau melihatnya, engkau pasti mengenalinya."

Ketika ada rombongan dari jazirah Arab, yang ia tahu banyak ditumbuhi kurma sampai di Amuria, iameminta untuk bisa mengikuti mereka dan memberikan imbalan ternak-ternaknya, dan mereka bersedia. Tetapi sampai di tempat bernama Wadil Qura, Salman dianiaya dan dijual sebagai budak kepada orang Yahudi.

Beberapa waktu kemudian datang seorang yahudi dari Bani Quraizhah, membelinya sebagai budak dan membawanya ke Yatsrib (nama Madinah pada masa jahiliah), untuk dipekerjakan di kebun kurmanya. Begitu tiba di Yatsrib, yakinlah ia bahwa ini negeri yang dimaksudkan oleh pemimpin yang saleh di Amuria. Karena itu ia bekerja dengan gembira walau sebagai budak, sambil menunggu kabar tentang munculnya nabi sebagaimana diramalkan oleh pemimpin Amuria tersebut.

Suatu ketika ia sedang di puncak pohon kurma, tiba-tiba datang sepupu majikannya dan berkata,"Bani Qilah celaka, mereka mengerumuni seorang lelaki dari Mekkah yang mengaku sebagai nabi. Merekasedang berkumpul di Quba…."

Saat itu memang Nabi SAW bersama Abu Bakar baru saja tiba di Quba, singgah pada Bani Amr bin Auf. Mendengar kabar tersebut tubuh Salman bergoyang keras dan hampir jatuh menimpa tubuh tuannya di bawahnya. Ia bergegas turun dan tanpa sadar statusnya sebagai budak, ia menuju tamu tuannya dan berkata, "Apa kata anda? Ada kabar apakah?"

Majikannya memukulnya sekuatnya dan berkata, "Apa urusanmu dengan semua ini, cepat kembali bekerja."

Sore harinya setelah pekerjaannya selesai, ia mengumpulkan bahan makanan yang dimilikinya dan bergegas ke Quba menemui Nabi SAW dan para sahabatnya yang berkumpul. Ia berkata, "Tuan-tuan adalah perantau, kebetulan aku memiliki persediaan makanan untuk sedekah. Tentu tuan-tuan sangat membutuhkannya…."

Salman menaruh makanan tersebut di depan Nabi SAW, dan beliau memanggil para sahabatnya dan berkata"Makanlah dengan Nama Allah…!"

Mereka berkumpul menyantap makanan tersebut tetapi beliau sama sekali tidak menyentuhnya.

Melihat hal itu, Salman berkata dalam hati, "Demi Allah, inilah salah satu dari tanda-tanda ia seorang nabi, ia tidak mau memakan sedekah."

Keesokan harinya ia datang lagi menghadap Nabi SAW dengan membawa makanan dan ia berkata, "Kulihat tuan tidak mau makan sedeqah, tetapi ini adalah hadiah untuk tuan…"

Nabi SAW memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyantap makanan yang dibawa Salman, dan beliaupunikut memakannya. Dan Salman berkata dalam hati, "Ini adalah tanda yang kedua, beliau mau makan yang diberikan sebagai hadiah."

Beberapa hari (bulan) kemudian, Salman menemui Nabi SAW yang berada di Baqi sedang menguburkan jenazah seorang sahabat, beliau memakai dua kain lebar, satu untuk baju dan satunya untuk sarung. Ia memberi salam sambil melihat ke arah pundak beliau, dan beliau tanggap isyarat tersebut, Beliau sedikit menyingkapkan burdah dari leher sehingga Salman bisa melihat cap kenabian seperti diceritakan orang saleh Amuria.

Salman tidak bisa menahan diri lagi, pencarian panjangnya berakhir sudah. Ia menangis dan meratap sambil menciumi Nabi SAW. Setelah suasana emosional yang meliputinya mereda, ia duduk menghadap Rasulullah SAW dan menceritakan pengalaman dan perjalanan untuk mencapai hidayah Allah SWT ini. Ia segera mengucap syahadat untuk menyatakan keislamannya.

Ketika perang Badar dan Uhud berlangsung, Salman tidak bisa ikut serta karena statusnya sebagai budak jadi halangan baginya. Tuannya yang seorang Yahudi tentu saja tidak akan membiarkannya meninggalkan pekerjaan di kebun kurma untuk menyertai Nabi SAW di dua peperangan tersebut. Suatu ketika Nabi SAW berkata kepadanya, "Mintalah kepada tuanmu agar ia membebaskanmu dengan uang tebusan…!"

Salman menyampaikan hal itu kepada tuannya dan ia menyetujuinya. Nabi SAW menyeru kepada para sahabat untuk mengumpulkan dana sebagai pembayaran kebebasannya dari perbudakan. Maka jadilah ia orang merdeka dan lebih leluasa untuk belajar, beribadah dan berjuang bersama Nabi SAW.

Pada perang Ahzab, dimana beberapa kabilah di jazirah Arab bersekutu untuk menggempur Madinah, NabiSAW mengadakan musyawarah bagaimana cara menghadapi mereka. Situasinya cukup kritis, karena menurut informasi yang dihimpun oleh mata-mata yang dikirimkan Nabi SAW, mereka ini lebih dari sepuluh ribu prajurit yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Jumlah ini lebih banyak daripada seluruh penduduk Madinah, termasuk wanita dan anak-anaknya. Apalagi pas**an sekutu yang sebenarnya atas inisiatif kaum Yahudi Bani Nadhir ini, sempat mempengaruhi kaum Yahudi Bani Quraizhah yang tinggal di Madinah untuk mendukung mereka, padahal kabilah ini terikat perjanjian damai dengan Nabi SAW dalam Piagam Madinah.

Setelah berlangsung diskusi cukup lama dan beberapa usulan masuk kepada Nabi SAW, Salman berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, dulu kami orang-orang Persi jika sedang dikepung musuh, kami menggali parit di sekeliling kami untuk mempertahankan diri. Bagaimana kalau kita menggali parit untuk perlindungan kota Madinah??"

Usulan yang cukup brillian ini diterima oleh forum musyawarah. Itulah sebabnya perang Ahzab ini juga dikenal sebagai Perang Khandaq (Perang Parit). Terbuktilah kemudian strategi ini sangat berhasil, gelombang pas**an yang begitu besar yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb ternyata tak berkutik. Strategi ini tidak pernah dikenal oleh orang-orang Arab yang pada dasarnya s**a berperang, karena itu mereka tidak pernah mengantisipasi sebelumnya. Akhirnya mereka hanya bisa melakukan pengepungan, yang sebenarnya inipun di luar perhitungan mereka, secara perbekalanpuntidak dipersiapkan unuk itu.

Pada perang Ahzab ini tidak terjadi perang fisik secara besar-besaran, hanya percikan kecil ketika sekelompok kecil orang Quraisy berusaha menyeberangi parit dan tentunya dengan mudah dipatahkan oleh Pas**an Muslim yang telah bersiap di sisi parit. Bisa dikatakan ini adalah Psy War, perang urat syaraf yang menguji keteguhan dan kesabaran mental para pelakunya. Memang pas**an muslim sempat terganggu dengan pengkhianatan kaum Yahudi Bani Quraizhah, tetapi setelah hampir sebulan pengepungan, Allah menurunkan pertolonganNya, termasuk dalam bentuk Islamnya Nu'aim bin Mas'ud bin Amir al Asyjay, sehingga pas**an sekutu terpecah-belah dan p**ang kembali ke tempat masing-masing tanpa hasil yang diharapkan.

Salman yang masih Majusyi, hidup dalam kemewahan sebagai anak pejabat setingkat bupati, dalam jabatan mulia penjaga api sembahan orang Majusyi, semua itu ditinggalkannya ketika percik hidayah menyapanya. Hidup terlunta berpindah-pindah, bahkan menjadi budak sekalipun tidak dihiraukan asal menemukan titik hidayah tersebut. Ini menunjukkan karakter seperti apa yang dimiliki Salman. Dan karakter ini makin menguat ketika sosok hidayah tersebut adalah Rasulullah SAW, suatu teladan hidup dalam kesederhanaan dan jauh dari cinta dunia.

Ketika Islam mengalami kejayaan, harta kekayaan mengalir ke Madinah dan wilayah makin meluas, sebagai salah seorang sahabat utama Nabi SAW, mau tidak mau, s**a tidak s**a Salman jadi terlibat juga dalam hal yang sebenarnya tidak dis**ainya, jabatan dan kekayaan. Khalifah Umar memaksanya untuk memegang jabatan Amir di wilayah Madain, padahal ia selalu menolak suatu jabatan kecuali sebagai pimpinan pas**an yang berjuang di jalan Allah, karena ia memang sangat merindukan menjadi syahid. Bahkan ia punya prinsip, yakni : "Jika engkau masih mampu makan tanah, asal tidak membawahi dua orang manusia, maka lakukanlah!!"

Tetapi menghadapi khalifah Umar yang sama zuhudnya dengan dirinya ia tidak berkutik, Umar selalu berkata kepada para sahabat yang menolak jabatan karena zuhud, seperti ini atau semisal ini, "Kalian telah memba'iat dan membebani aku dengan amanat ini, yang aku sendiri tidak menginginkannya, maka tolonglah aku untuk menjalankan amanat ini…."

Menjadi Amir di Madain ternyata tidak melunturkan karakter kesederhanaannya. Ketika rumah jabatan disiapkan oleh seorang tukang bangunan, ia bertanya, "Rumah seperti apa yang engkau siapkan untuk diriku??"

Ternyata tukang bangunan tersebut sangat mengenal karakter Salman, ia berkata, "Jangan anda khawatir, rumah tersebut merupakan bangunan yang bisa dijadikan tempat berteduh di waktu hujan, bernaung di waktu panas. Jika anda berdiri dan merentangkan tangan ke atas, anda akan menyentuh langit-langitnya, jika anda berbaring, kepala dan kaki anda akan menyentuh dinding dindingnya…"

Salman puas dengan penjelasan tersebut. Tunjangannya sebagai amir adalah empat ribu sampai enam ribu dirham setahun, tetapi itu langsung habis disedekahkan pada hari ia menerimanya. Di sela waktu melayani keperluan umat, ia asyik menjalin dan mengayam daun kurma menjadi bakul atau keranjang. Setelah selesai, dijualnya ke pasar seharga tiga dirham, satu dirham dibelikan daun kurma (untuk bahan membuat keranjang), satu dirham untuk menafkahi keluarganya dan satu dirham sisanya disedekahkan.

Suatu ketika ada seorang Syriayang membawa sepikul buah tin dan kurma, ia tampak kesulitan karena bebannya terlalu berat. Ketika lewat seseorang yang tampak miskin dan kumuh, ia berkata, "Tolong bawakan barangku ini ke rumahku, nanti aku beri upah.."

Tanpa banyak bicara orang tersebut bersedia membantunya, mereka berjalan beriringan ke rumahnya. Anehnya setiap kali bertemu serombongan orang, orang yang membantunya itu memberi salam, dan mereka menjawab,"Juga kepada Amir, kami ucapkan salam…!"

Bahkan terkadang salah seorang dari mereka menghampiri untuk mengambil alih memikulnya, tetapi selalu ditolaknya. Ketika keheranannya makin memuncak, ia sadar bahwa yang membantunya tersebut adalah Amir kotaMadain, Salman al Farisi. Buru-buru ia meminta maaf dan akan mengambil alih pikulannya, tetapi Salman berkata, "Tidak usah, biarlah akan kuantar sampai ke rumahmu seperti telah kuniatkan…."

Desli

22/02/2015

"Memotong kuku"

Diperintahkanya memotong kuku.
Hadist dari ibnu umar Radhaillahu Anhuma bhwa Rosulullah Saw telah bersajada:"termasuk dari fitroh adalah: mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, dan memotong kumis" (Hr bukhori no 5990 dan an nasa'i no 12 )

Hukum memotong kuku
Para ulama telah ber ijma' bhwa memotong kuku adalah sunnah (Nailul Autor:1/134), imam Nawawi berkata : adapun memtng kuku hukumnya adalah sunnah bukan suatu kewajibn ( shohih Muslim bi syarhi nawawi :3/127, Majimu' syarhu muhadzdzab :1/353)

Kapan waktu memtong kuku?

Dalaw pembhasan ini tidak ada dalil shohih tentang wakv khusus yg digunakan untk memtng kuku, adapun hadist-hadist yg menerangkan Rosulullah memtng kuku pada hari jum'at adalah Dho'if yg tidak bisa kita jdikan sbgai sandaran beramak. (Fathul baari syarh shohih al-bukhori)
Namun ada atsar dr para sahabat sbg berikut :dari nafi' bhwasanya ibnu umar ra beliau memtng kuku dan bulu kemaluanxa setiap 15 malam ( hr.bukhori dalam adabul mufrot no. 1258)

Batasan paling lama membiarkan kuku
Ada sebuah hadist yg diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra: telaq ditentkan bagi kami memtng kumis, memtng kuku,mencbt bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan agar tidak lebh dari 40 malam (Hr. Muslim no. 258, Hr. At-tirmidzi, Abu Daud)

Hikmah diperintahkanya memotong kuku

Menjaga kebershan ,menyelamatkan dari kotoran 2 yang mungkin mengendap dibwah kuku, menghndari dari Tasyabuh(menyerupai) orang kafir dan hewan yg memiliki cakar

19/02/2015

[Renungan untuk Ikhwan-Akhwat Pengguna Facebook: bagian I]
Penyusun: Abu Muhammad Al-Ashri
Muraja’ah dan koreksi ulang: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar
Akhi…
Bila kita sempatkan diri kita untuk membaca sejarah hidup para pendahulu kita yang shalih mulai dari masa shahabat hingga para ulama salafi, niscaya kita dapati akhlak, adab, dan ketegasan mereka yang menakjubkan. ‘Kan kita jumpai p**a indahnya penjagaan diri mereka dari aib dan maksiat. Merekalah orang-orang yang paling bersegera menjauhi maksiat. Bahkan, sangat menjauh dari sarana dan sebab-sebab yang mendorong kepada perbuatan maksiat.
Bila kita membaca kehidupan anak-anak atau para remaja di masa salaf, niscaya kita dapati mereka adalah darah-darah muda yang tampak kecintaannya terhadap din, semangatnya dalam membela al-haq, dan sikap bencinya kepada perbuatan dosa. Maka, kita dapati mereka di usia muda, sudah memiliki hafalan Al-Qur’an, semangat yang besar untuk berjihad, dan kecerdasan yang menakjubkan.
Sebaliknya, sungguh sangat sedih hati ini. Tidakkah kita merasakan bahwa kaum muslimin saat ini terpuruk, terhina dan tidak berdaya di hadapan orang-orang kafir, padahal jumlah kita banyak? Lihatlah diri kita! Bandingkan diri kita dengan para pemuda di masa salaf! Akhi… saya, antum, kita semua pernah bermasiat. Namun, sampai kapan kita bermaksiat kepada-Nya?
Saya tidak mengharamkan antum berdakwah kepada wanita, karena Nabi pun berdakwah kepada wanita!
Saya pun tidak mengharamkan muslim atau muslimah memanfaatkan facebook, karena untuk mengharamkan sesuatu membutuhkan dalil.
Siapa yang melarangmu mendakwahi mereka akhi…?
Bahkan, dulu kumasih berprasangka baik padamu bahwa kau ‘kan dakwahi teman-teman lamamu, termasuk para wanita itu…
Namun, yang terjadi adalah sebagaimana yang kau tahu sendiri…
Tak perlu kutulis…
Karena kau pasti tahu sendiri…
Catat! Tak kubuka friendlist FB-mu karena aku tak mencari-cari aibmu…
Namun, tidakkah kau sadar bahwa FB itu sangat-sangat terbuka?
Hingga dirimu sendiri yang tak sadari…
Bahwa tingkah lakumu pada para akhwat itu,
Dapat dilihat kawan-kawanmu yang lain, termasuk diriku…
Yang inilah sebab yang mendorongku menorehkan pena dalam lembaran-lembaran ini…
Duh….
Betapa sering Allah menutupi aib seorang hamba…
Namun dirinyalah sendiri yang membongkar aibnya…
Ya Allah…
Kuadukan kesedihan hatiku ini hanya kepadaMu…
Hanya kepadaMulah kuserahkan hatiku…
Mudah-mudahan Kau mendengar doaku…
Dan Kau maafkan kesalahan kawan-kawanku itu…
Di samping ku terus berhadap agar Kau pun maafkan diriku…
Akhi…
Pernahkah kau baca firman Allah yang menyinggung “mata yang berkhianat”?
Baiklah, kita periksa kembali. Allah berfirman dalam surat Al-Mukmin: 19
يعلم خاينة الأعين
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang berkhianat”
Nah, apakah yang dimaksud dengan mata yang berkhianat itu? Akhi, sesungguhnya Al-Qur’an itu turun di masa para shahabat. Shahabat Nabilah yang paling mengerti makna Al-Qur’an karena mereka hidup bersama Nabi, langsung mendapat bimbingan dan pengarahan Nabi. Maka, kini kan kubawakan tafsir Ibnu Abbas, sebagai hadiahku untukmu.
Akhi ingat kan siapa Ibnu Abbas? Na’am! Dia adalah ahli tafsir dari kalangan shahabat Nabi. Kudapatkan tafsir ini dari Abul F***j Al-Jauzy (Ibnul Jauzy), dalam kitab beliau,ذم الهوى. Ibnu Abbas berkata
الرجل يكون في القوم فتمر بهم المرأة فيريهم أنه يغض بصره عنها فإن رأى منهم غفلة نظر إليها فإن خاف أن يفطنوا إليه غض بصره وقد اطلع الله عز وجل من قلبه أنه يود أنه نظر إلى عورتها
“Seseorang berada di tengah banyak orang lalu seorang wanita melintasi mereka. Maka, ia memperlihatkan kepada kawan-kawannya bahwa IA MENAHAN PANDANGANNYA DARI WANITA TERSEBUT. Jika ia melihatmereka lengah, ia pandangi wanita tersebut. Dan jika ia khawatir kawan-kawannya memergokinya, ia menahan pandangannya. Padahal, Allah‘azza wa jalla mengetahui isi hatinya bahwa ia ingin melihat aurat wanita tersebut .”
Camkan itu akhi…!
Kita sudah lama mengenal Islam…
Kita sudah lama ngaji…
Apakah seseorang yang sudah lama ngaji pantas seperti itu?
Inginkah akhi dikenal manusia sebagai pemuda yang shalih…
Yang senantisa menundukkan pandangan di alam nyata…
Namun kau berkhianat dengan matamu…
Kau tipu kawan-kawanmu yang berprasangka baik kepadamu…
Tidakkah ‘kau malu kepada Allah…
Yang melihatmu di kala tiada orang lain di sisimu selain laptopmu, komputer, atau HP-mu?
Yang dengan laptopmu kau bisa pandangi wanita ses**a hatimu…?
Yang komputermu kau bisa sapai mereka sepuasmu..?
Yang HP-mu kau bisa berbincang-bincang dengan mereka sekehendakmu…?
Akhi…
Janganlah ‘kau marah padaku…
Marahlah pada Ibnu Abbas jika kau mau…
Karena dialah yang menjelaskan arti mata khianat kepadaku…
Akhi…
Jika kau malu bermaksiat di hadapan kawan-kawanmu, apalagi di hadapan para wanita itu…
Ketahuilah bahwa
قلة حيائك ممن على اليمين وعلى الشمال وأنت على الذنب أعظم من الذنب
“Sedikitnya rasa malumu terhadap siapa yang berada di sebelah kanan dan sebelah kirimu, saat kamu melakukan dosa, itu lebih besar daripada dosa itu sendiri!”
Eits… sebentar akhi, jangan marah dulu. Itu di atas bukan ucapan saya, tetapi ucapan Ibnu Abbas! Silakan lihat di ذم الهوى halaman 181.
Akhi…
Apakah engkau masih sempat-sempanya tertawa, melempar senyum pada akhwat itu, meski sebatas:
simbol ^__^
atau kata-kata: xii…xiii..xii..,
atau: hiks..hiks…hiks…,
atau: hiii..hi..hi..,
atau: ha..ha..ha…,
atau: so sweet ukhti…,
atau sejenisnya yang kau tulis di wall-wall atau ruang komentar Facebook para akhwat itu!
Maka, Ketahuilah bahwa
وضحكك وأنت لا تدري ما الله صانع بك أعظم من الذنب
“Tertawa saat kamu tidak tahu apa yang akan Allah perbuat terhadapmu, ITU LEBIH BESAR DARIPADA DOSA ITU SENDIRI!”
dan juga
وفرحك بالذنب إذا ظفرت به أعظم من الذنب
“Kegembiraanmu dengan dosa ketika kamu melakukannya, ITU LEBIH BESAR DARIPADA DOSA ITU SENDIRI”
Afwan akhi jika antum mulai emosi (semoga tidak). Jangan lihat saya karena dua kalimat di atas bukan ucapan saya, tetapi ucapan Ibnu Abbasp**a, afwan.
Akhi…
Kalau antum masih bermudah-mudahan dalam berfacebook ria dengan para wanita itu,
Ketahuilah bahwa antum adalah pengecut!
Karena kalau kau berani, kau kan temui ayahnya dan kau pinang dirinya…
Kalaupun hartamu tidak mendorongmu untuk itu…
Kau tetap pengecut karena kau hanya “tunjukkan perhatian”…
Sementara kau tidak berani “maju melangkah”…
Jika kau mampu tahan pandanganmu dari “bunga-bunga” facebook itu, barulah kau ini seorang pemberani!
Sabar dulu akhi, jangan marah dulu. Siapa saya? Saya ini masih sama-sama belajar seperti antum, atau malah saya masih tergolong anak “baru ngaji”. Namun, mohon jikalau akhi menolak ucapan saya, perhatikanlah untaian kata yang dikutip Ibnul Jauzi di bawah ini..
ليس الشجاع الذي يحمي مطيته … يوم النزال ونار الحرب تشتعل
لكن فتى غض طرفا أو ثنى بصرا … عن الحرام فذاك الفارس البطل
Pemberani bukanlah orang yang melindungi tunggangannya
Pada saat peperangan, ketika api berkobar
Akan tetapi, pemuda yang menahan padangannya dari yangdiharamkan…
Itulah prajurit yang ksatria!
Akhi…
Sekali lagi, kalau kau tersinggung dengan ucapanku. Mohon janganlah kau lihat siapa saya, kawanmu ini. Saya tidak ada apa-apanya. Namun, sekali lagi, kumohon lihatlah siapa orang yang perkataannya kuhadirkan padamu. Salaf memberi nasehat kepada kita dengan untaian katanya di bawah ini:
فتفهم يا أخي ما أوصيك به إنما بصرك نعمة من الله عليك فلا تعصه بنعمه وعامله بغضه عن الحرام تربح واحذر أن تكون العقوبة سلب تلك النعمة وكل زمن الجهاد في الغض لخطة فإن فعلت نلت الخير الجزيل وسلمت من الشر الطويل
“Pahamilah wahai saudaraku apa yang aku pesankan kepadamu…
Penglihatanmu tidak lain adalah nikmat dari Allah atasmu…
Janganlah mendurhakai-Nya dengan menggunakan nikmat-Nya….
Perlakukanlah penglihatan tersebut dengan menahannya dari yang haram,
Maka kamu beruntung.
Jangan sampai engkau mendapat sangsi berupa hilangnya kenikmatan itu.
Waktu berjihad untuk menahan pandangan adalah sejenak.
Jika kau melakukannya, kau ‘kan dapatkan kebaikan yang banyak,
dan selamat dari keburukan yang panjang.”
[lihat ذم الهوى , karya أبو الفرج عبد الرحمن بن أبي الحسن الجوزي, hal. 143 ]
Akhi…
Sekali lagi, demi Allah, saya tidak melarangmu untuk berdakwah, termasuk dakwah kepada wanita. Sudah kuterangkan di atas bahwa Nabi pun berdakwah kepada wanita.
Namun, wahai akhi…
Antum memiliki kewajiban yang besar sebelum antum berdakwah, yaitu ilmu! Sudahkah kita berdakwah dengan ilmu? Akhi ini kutujukan p**a untuk diriku: Manakah waktu yang lebih banyak kita habiskan? Mendakwahi wanita itu, atau waktu kita dalam mengikuti majelis ilmu? Silakan kita jawab sendiri.
Akhi…
Laki-laki memang tidak dilarang bahkan bisa diwajibkan mendakwahi wanita, sebagaimana yang Nabi dan para shahabat lakukan…
Namun, mendakwahi mereka tidak harus lewat facebook kan? Antum bisa membuat blog/webiste yang dari situ antum bisa menulis risalah. Antum bahkan bisa berbicara di alam nyata jika diperlukan, selama tidak ada khalwat. Namun, tidakkah kita ingat bahwa para shahabat menimba ilmu dari istri Nabi tidak berhadapan langsung, tetapi di balik tabir?
Jika ingin berdakwah, antum bisa menukilkan artikel bermanfaat, lalau kau cantumkan di facebookmu.. Antum juga bisa membuat page, atau grup yang dengannya kau bisa kirimkan artikel kepada kaum muslimin atau muslimah sehingga bisa membaca nasehatmu. Itu saja! Lalu kau log-out dari FB. Selesai kan? TANPA KITA HARUS MELIHAT-LIHAT LAWAN JENIS dan berbincang-bincang dengannya.
Akhi… di saat antum akan mendakwahi wanita, di saat itu p**a antum harus menjaga diri antum untuk jauh.. menjauh sejauh-jauhnya dari pintu fitnah!
Tidak ingatkah akhi bahwa para shahabat ketika ingin menimba ilmu kepada para istri nabi, mereka lakukan di balik tabir? Di balik tabir akhi…!Bukan melihat wajah-wajah wanita yang kau add di facebookmu itu!
Akhi…
Jangan kau anggap ini kaku. Kalau akhi tidak percaya. Silakan periksa sendiri. Demi Allah, silakan periksa sendiri para akhwat teman-teman lama antum ketika di SLTP / SMU dulu, termasuk di kampusmu yang kau add di FB-mu.
Berapa di antara mereka yang menerima nasehatmu dalam praktik yang nyata?
Hingga para akhwat tersebut memakai hijabnya…
Menutupi wajahnya dari pandanganmu…
Meninggalkan maksiat-maksiat karena menrima nasehatmu..
Atau akhwat-akhwat itu hanya katakan,
“Subhanallah akhi…,
bagus sekali nasehatnya….,
izin share ya….
Saya di-tag dong…
Kok ana tidak di-tag akhi…?
Makasih ya bang telah di-tag…
Jangan bosan-bosan nasehatin ana…”
Bah! Jangan terburu-buru kau biarkan hatimu berbunga-bunga dengan kata-kata di atas akhi, karena
و خلق الإنسان ضعيفا
“Manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah”
(Q.S. An-Nisa’: 28)
maka ingatlah bahwa jika akhwat itu bisa berkata-kata lembut kepadamu, padahal dia bukan istrimu, tentu dia pun akan bersikap demikian pada laki-laki lain, selain dirimu!
أفق يا فؤادي من غرامك واستمع … مقالة محزون عليك شفيق
علقت فتاة قلبها متعلق … بغيرك فاستوثقت غير وثيق
Sadarlah wahai hati dari kasmaranmu, dan dengarkan!
Ucapan kesedihan dan kasihan kepadamu…
Kamu terpikat dengan gadis yang hatinya terpikat dengan selainmu!
Akhi….
Sebelum kau terpukau dengan gaya bahasa para akhwat itu, ingatlah bahwa Nabi memberikan peringatan kepada kita
ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء
”Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki ketimbang wanita”
[ H.R Bukhari dan Muslim ]
Akhi…
Apakah kau tidak merasakan kesedihan sebagaimana yang kurasakan? Akhi… Bagaimana mata ini tidak mengalir di saat kita baca pesan istri Nabi, Aisyah, berkata,
لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء اليوم لنهاهن عن الخروج أو حرم عليهن الخروج
“Seandainya Rasulullah melihat apa yang diperbuat kaumwanita pada hari ini, niscaya beliau melarang mereka keluar rumah atau mengharamkan mereka keluar rumah”
[lihat beserta sanadnya di ذم الهوى , karya أبو الفرج عبد الرحمن بن أبي الحسن الجوزي, hal. 154][1]
Ya.. Allah, ‘afallahu ‘anhunna…
Akhi… Kapan Aisyah (radhiyallahu ‘anha) mengatakan demikian? Kapan…? Kapan…? Lebih dari seribu tahun yang lalu, akhi, di saat Islam masih di puncak kejayaannya, di saat para shahabat yang menerima langsung pengajaran nabi masih hidup.
Duhai Ibunda, Aisyah….
Kau katakan demikian…
di kala Nabi belum lama wafat meninggalkan dirimu…
di kala para shahabat terbaik masih hidup di antaramu..
Kau katakan demikian…
di kala para wanita masih tutupi dirinya dengan hijab kemuliaan
Aku tahu tak tahu apa yang ‘kan kau katakan…
Jika kau hidup di masa kami…
Di saat kami tenggelam dalam kotornya dunia…
Di saat manusia menghiasi dirinya dengan tipisnya rasa malu…
Di saat kaum wanita ceburkan dirinya dalam alam tabu…
Maka, demikian p**a Engkau wahai saudariku muslimah! Jikalau tulisan ini sampai kepadamu, mengapa tidak kau katakan kepada kami, para laki-laki, suatu ucapan yang kami justru bangga mendengarnya jika kau ucapkan:
إليك عني! إليك عني! … فلست منك و لست مني
Menjauhlah kau dariku…! Menjauhlah kau dariku…!
Karna aku bukan milikmu…
Dan kau pun bukan bagian dari ku…
Ya ukhti…
Mengapa mau add, atau kau terima permintaan pertemanan facebook dengan para laki-laki, sementara ia bukan milikmu?
Belumkah kau ketahui tahu bahwa
إن الرجال الناظرين إلى النساء
مثل السباع تطوف باللحمان
إن لم تصن تلك اللحوم أسودها
أكلت بلا عوض و لا أثمان
Laki-laki ketika melihat wanita…
Seperti bintang buas ketika melihat daging…
Jika daging-daging itu tidak disimpan dengan rapi…
Ia ‘kan dibabat tanpa konpensasi apapun dan tanpa harga…
Ya ukhti…
Belumkah sampai kepadamu pesan Nabi kita?
يا معشر النساء تصدقن وأكثرن الاستغفار فإني رأيتكن أكثر أهل النار
“Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar! Sesungguhnya aku melihat kalian sebagai penghuni mayoritas di neraka.
(H.R. Muslim: 132)
Wahai ukhti…
Tidakkah kau ingat bahwa kau pun diperintah untuk menahan pandanganmu?
وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah merekamenahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluanmereka! Dan janganlah mereka menampakkan perhiasanmereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka! Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka!”
(Q.S. An-Nuur: 31)
—bersambung—
Ahad, 14/11/1430 – 1 November 2009
Ba’da shbuhuh yang cerah di Masjid Al-‘Ashri,
Menjelang dimulainya kajian kitab Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad
CATATAN KAKI:
________________________________________
[1] Terdapat riwayat dari Aisyah yang mirip dengan atsar di atas, yaitu dalam shahih Muslim (cetakan دار إحياء التراث العربي – بيروت Juz I, hal. 445, hadits nomor 144):
عن عمرة بنت عبدالرحمن أنها سمعت عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم تقول
: لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء لمنعهن المسجد كما منعت نساء بني إسرائيل قال فقلت لعمرة أنساء بني إسرائيل منعن المسجد ؟ قالت نعم
lihat p**a lafadz ini dalam :
1. Musnad Ahmad bin Hambal (cetakan مؤسسة قرطبة – القاهرة ) Juz VI, hal. 193, hadits nomor 25.651
2. Musnad Ishaq bin Rahwiyah (cetakan مكتبة الإيمان – المدينة المنورة), Juz II, hal. 148, hadits nomor 639; dan Juz II, hal. 426,

08/06/2014

Inilah hari yang kita tunggu-tunggu
Minggu, 08 Juni 2014 agenda puncak Fiesta Nasyid Indonesia
Konser+Talkshow Simfoni Nada Dakwah
Pukul 13.00 di GSG IAIN Raden Intan Lampung.
Datang, saksikan dan buka cakrawala pengetahun anda tentang Nasyid Indonesia
Buat yang belum punya ticket, jangan khawatir masih bisa daftar on the spot.....

Ayo ikut acara keren ini ;) terbuka untuk umum loh
24/05/2014

Ayo ikut acara keren ini ;) terbuka untuk umum loh

Sedang berlangsung stadium general ukm bapinda iain raden intan lampung bersama 4 Ukm-f
01/03/2014

Sedang berlangsung stadium general ukm bapinda iain raden intan lampung bersama 4 Ukm-f

01/03/2014
28/02/2014

for you all kader UKM Bapinda IAIN Raden Intan Lampung jangan lupa besok hadiri dan semarakkan Stadium general + rapat kerja UKM BAPINDA IAIN Raden Intan Lampung bersama 4 UKMF ( UKMF IBROH, Ukmf Hamasah Syariah, UKMF ABABIL FD DAN Ukmf Salam Ushuluddin )

Dihadiri oleh Ustdz Ahmad Jajuli..
Pastinya full manfaat dech

jangan lupaa besok pukul 08.00 WIB at GSG IAIN Raden Intan Lampung !!

Ayo hadiri dan semarakkan rapat kerja UKM BAPINDA IAIN Raden Intan Lampung !!Sabtu, 1 Maret 2014 at GSG IAIN Raden Intan...
24/02/2014

Ayo hadiri dan semarakkan rapat kerja UKM BAPINDA IAIN Raden Intan Lampung !!

Sabtu, 1 Maret 2014 at GSG IAIN Raden Intan Lampung.
pukul 08.00 WIB

satu hati bangun negri !!

Hadiri dan Semarak kan Rapat Kerja UKM Bapinda IAIN Raden Intan Lampung..Jadilah bagian dari "Revitalisasi Peran LDK dal...
23/02/2014

Hadiri dan Semarak kan Rapat Kerja UKM Bapinda IAIN Raden Intan Lampung..
Jadilah bagian dari "Revitalisasi Peran LDK dalam Pendidikan Karakter Intelektual Muslim"
,1 Maret 2014
GSG IAIN Lampung

Don't Forget to Share it !

Address

Gedung B1. 1 Fakultas Tarbiyah IAIN Lampung
Bandar Lampung

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when UKMF IBROH posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share