27/05/2026
Kakek 68 Tahun Mulung Sampah Dalam Keadaan Lapar Hingga Tertidur di Jalanan
“Dalam seminggu kadang cuma dapat dua puluh lima ribu… itu pun sudah sangat disyukuri. Biasanya bapak belikan beras sedikit supaya bisa dimakan seminggu,” ucap Pak Ruhiyat lirih.
“Kadang kami harus menahan lapar sampai perut terasa sakit.”
Usia Pak Ruhiyat sudah 68 tahun. Di usia ketika banyak orang beristirahat menikmati masa tua, beliau justru masih harus berjalan dari kampung ke kampung dengan karung tua di pundaknya. Karung itu sudah kusam, penuh tambalan, tapi itulah satu-satunya “alat kerja” yang ia miliki untuk mencari makan.
Setiap pagi buta, sebelum matahari benar-benar muncul, Pak Ruhiyat sudah berjalan menyusuri jalanan yang masih sepi. Dengan langkah yang gemetar dan napas yang sering tersengal, ia memunguti botol plastik, kardus, dan barang bekas apa saja yang masih bisa dijual.
“Bapak cari rongsok… supaya bisa makan,” katanya pelan.
Jika ia terlambat datang ke tempat pembuangan sampah, biasanya semua barang yang bisa dijual sudah diambil pemulung lain. Karena itu, meski tubuhnya sering sakit dan lelah, Pak Ruhiyat tetap memaksa dirinya berangkat sejak pagi.
Sampah demi sampah dimasukkan ke dalam karungnya. Harapannya sederhana: hari ini dapat sedikit lebih banyak, supaya malam nanti ia tidak harus tidur dalam keadaan lapar.
Namun sering kali kenyataan berkata lain.
“Kalau tidak ada uang… alhamdulillah kadang bapak nemu makanan di tempat sampah,” ungkapnya dengan mata yang menunduk.
“Kalau makanannya masih bisa dicuci, bapak cuci saja… daripada tidak makan sama sekali.”
Hari-hari yang dijalani Pak Ruhiyat penuh dengan rasa lelah dan lapar. Kadang, ketika tubuhnya sudah tidak kuat lagi dan perutnya terasa perih karena kosong, ia hanya duduk di pinggir jalan… lalu tertidur.
“Saya kalau lapar biasanya tidur saja… biar laparnya tidak terlalu terasa,” katanya.
Karung berisi sampah sering menjadi bantalnya. Di antara bau sampah dan debu jalanan, lelaki tua itu tertidur karena kelelahan.
Di rumahnya yang sangat sederhana, istrinya menunggu dengan harapan yang sama setiap hari: semoga hari ini Pak Ruhiyat pulang membawa sedikit uang atau sekadar makanan.
Ketika sakit datang, mereka hanya bisa berbaring sambil menahan nyeri. Tak ada obat, tak ada uang untuk berobat. Hanya air mata dan doa yang mereka panjatkan agar rasa sakit itu segera berlalu.
Harapan Pak Ruhiyat sebenarnya tidak besar.
Ia tidak meminta rumah mewah atau hidup berlimpah. Ia hanya ingin memiliki sedikit modal usaha yang layak, supaya ia tidak lagi harus mengais sampah di usia senjanya.
Ia hanya ingin makan setiap hari… dan menjalani sisa hidupnya dengan sedikit ketenangan, sampai waktunya pulang untuk selamanya