03/06/2026
“Di Hari Kurban, Aku Merasa Jadi Orang Asing di Rumah Ini…”
Bagi Rina, Idul Adha tahun ini terasa begitu dingin.
Padahal sejak subuh ia sudah bangun lebih dulu.
Diam-diam menyiapkan semuanya sendiri.
Ia memasak rendang, merebus ketupat, membuat sambal, bahkan memastikan baju koko suaminya sudah rapi untuk sholat Id.
Ia ingin menjadi menantu yang baik.
Ia ingin diterima.
Namun pagi itu, saat keluarga besar berkumpul di meja makan, hati Rina kembali terasa kecil.
“MashaAllah… masakan menantu abang memang paling enak ya,” puji ibu mertua sambil tersenyum bangga pada istri kakak ipar Dimas.
Semua ikut memuji.
Semua tertawa.
Sementara rendang buatan Rina hanya tersisa di sudut meja.
Tak disentuh.
Tak dikomentari.
Rina hanya tersenyum kecil sambil menuang teh untuk semua orang.
Padahal semalaman tangannya pegal karena memasak sendiri.
Saat pembagian tugas kurban dimulai, para lelaki sibuk di luar rumah.
Suara takbir bercampur obrolan hangat keluarga terdengar ramai.
Namun lagi-lagi, Rina hanya dipanggil untuk urusan dapur.
“Rina, cucinya sekalian ya.”
“Piringnya masih banyak.”
“Nanti pel juga dapurnya.”
Ia mengangguk pelan.
Sementara menantu lain duduk di ruang tengah, ikut bercanda, ikut membungkus daging, bahkan diajak foto bersama keluarga.
Rina?
Ia hanya berdiri di depan wastafel.
Tangan sibuk mencuci.
Hati sibuk menahan sedih.
Sesekali ia melirik ke luar jendela.
Melihat suaminya tertawa bersama saudara-saudaranya.
Dimas memang baik.
Tapi terlalu sibuk sampai tidak sadar istrinya sedang merasa sendirian.
Di sudut dapur itu, air mata Rina akhirnya jatuh.
Bukan karena lelah memasak.
Bukan karena banyak pekerjaan.
Tapi karena rasanya…
keberadaannya seperti tidak pernah benar-benar dianggap ada.
Kadang yang paling menyakitkan dalam keluarga bukan bentakan.
Melainkan ketika semua orang bersikap biasa saja…
sementara kita diam-diam merasa tidak diterima.
Dan lucunya,
tetap saja besok pagi Rina akan bangun paling awal lagi.
Karena perempuan seperti Rina sering diajarkan:
tetap kuat,
meski hatinya berkali-kali dibuat runtuh.