RumahTahfidz Gemilang Al Furqon

RumahTahfidz Gemilang Al Furqon Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from RumahTahfidz Gemilang Al Furqon, Hong Kong.

AYAH BUNDA, SUDAHKAH KITA BENAR-BENAR MENGENAL AL-QUR’AN?Tentu kita ingin anak-anak kita dekat dengan Al-Qur’an.Kita ing...
27/08/2026

AYAH BUNDA, SUDAHKAH KITA BENAR-BENAR MENGENAL AL-QUR’AN?

Tentu kita ingin anak-anak kita dekat dengan Al-Qur’an.
Kita ingin mereka mencintainya, memahami pesannya, dan menjadikannya pedoman hidup.

Tapi...

Sudahkah kita sebagai orang tua memberi teladan?

Mungkin selama ini kita lancar membacanya.
Namun, belum tentu kita memahami maknanya, bukan sekadar terjemahannya.

Mungkin kita sering mendengarnya.
Namun, marilah kita lebih merasakan lagi bagaimana Al-Qur’an sesungguhnya membimbing kehidupan kita.

Karena itu, mari luangkan waktu sejenak untuk belajar bersama.

📖 MADRASAH ORANG TUA
“Al-Qur’an : Indah di Bunyi, Mudah Dipelajari, Mulia Dijalani”

Maka tugas kita adalah menjadikan Al-Qur’an hidup dalam keluarga kita.

Sebab anak-anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang menyuruh mereka membaca Al-Qur’an.

Mereka membutuhkan orang tua yang mau berjalan bersama Al-Qur’an.

InsyaaAllah, satu langkah Ayah Bunda menuju majelis ilmu, bisa menjadi awal dari perjalanan panjang keluarga bersama Al-Qur’an.

📅 Ahad, 30 Agustus 2026
⏰ 09.30 – selesai
📍 Masjid Perjuangan
🎙️ Ustadz Mufrodi
Capital Quranic Mentor

Jangan hanya berharap anak mencintai Al-Qur’an. Mari kita mulai dengan menunjukkan bahwa kita pun mencintainya.

Ayah belajar. Ibu belajar. Anak pun akan melihat. Keluarga pun bertumbuh.

InsyaAllah, kita bertemu di Madrasah Orang Tua. 🤲

24/08/2026

Apa yang harus diteladani dari Nabi Muhammad ﷺ ?

Setiap bulan _rabi'ul awal_, kita diperlihatkan dengan semarak kegembiraan memperingati hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad ﷺ.

Yang memang kita wajib mengagumi beliau sekaligus meneladaninya.

📌 Pertanyaannya....

Apa yang perlu benar-benar kita teladani dari Nabi Muhammad ﷺ berdasarkan Al-Qu'ran? ?

Teladan yang baik (uswatun hasanah) dalam Al-Qur'an maksudnya adalah meneladani Nabi Muhammad ﷺ dalam hal menjadi orang yang وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (begitu banyak menyebut pesan Allah).

Sebagaimana tercantum di *surat Al-Ahzab : 21*.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Ayat di atas mengaitkan frase أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ dengan frase وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (orang yang begitu banyak menyebut pesan Allah).

Orang yang وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا itu adalah orang yang akan berada pada level tertinggi dari 10 level manusia. Seperti yang dipaparkan dalam Surat Al-Ahzab : 35.

الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ
وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ
وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ
وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ
وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

Tampak pada ayat di atas, ada 10 tingkatan (level) manusia, dan *level manusia yang paling tinggi adalah :

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ
(orang yang paling banyak menyebut pesan-pesan Allah SWT.) Dan level ini adalah level Nabi Muhammad ﷺ untuk diteladani, yakni Nabi-lah yang paling banyak menyebut pesan-pesan Allah, yaitu Al-Qur'an.

Nabi selalu mengatakan qola ta'ala dalam segala aspek. Qola ta'ala (Al-Qur'an) yang memandu dan menerangi Nabi ﷺ dalam memimpin kaum dan umat beliau.

Sudahkah kita benar-benar meneladani Nabi Muhammad ﷺ?





Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya....17 Agustus bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah kemerdekaan Indonesia...
16/08/2026

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya....

17 Agustus bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia juga dapat menjadi momentum untuk bertanya : Setelah bangsa ini merdeka, Generasi manusia seperti apa yang hendak kita bangun?

Menariknya, semangat tersebut sejalan dengan pesan yang terkandung dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya :

Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya....

Urutannya sangat menarik yakni jiwa terlebih dahulu, kemudian badan.

Sebab manusia bukan hanya memiliki badan (raga) yang perlu dibangun, melainkan juga memiliki jiwa yang harus diarahkan.

*Allah subhanallahu wa ta'ala berfirman :*

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۝ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا»

"Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan jiwa kepadanya jalan kefasikan (jahat) dan ketakwaannya.”
QS. Asy-Syams : 7–8

Ayat ini menunjukkan bahwa dalam diri manusia terdapat potensi fujur (jahat) dan takwa.

Maka persoalan pembangunan manusia bukan sekadar bagaimana membuat tubuhnya kuat, pikirannya cerdas, ekonominya maju, dan kehidupannya sejahtera. Namun, ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu Ke mana jiwanya diarahkan?

Jika badan dibangun tanpa jiwa yang bertakwa, maka kemajuan dapat kehilangan arah.

Sebaliknya, jiwa yang bertakwa akan mengarahkan ilmu, kekuatan, harta, jabatan, teknologi, dan seluruh potensi manusia untuk menghasilkan kebaikan.

Lalu, bagaimana membangun jiwa agar bertakwa?

Al-Qur’an memberikan jawabannya sejak awal :

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi jiwa orang-orang yang bertakwa.”
QS. Al-Baqarah : 2

Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia untuk membangun jiwa yang bertakwa. Untuk menumbuhkan jiwa agar takwa hanya dengan petunjuk yang Allah turunkan, yaitu Al-Quran.

Karena itu, kemerdekaan yang sejati tidak berhenti pada terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan.

Kemerdekaan juga harus diisi dengan membangun manusia yang merdeka jiwanya, tidak diperbudak oleh hawa nafsu, kesombongan, kebencian, ketamakan, dan berbagai bentuk keburukan, tetapi tunduk kepada petunjuk Allah (Al-Quran).

Dengan jiwa yang menyerap petunjuk Al-Quran, maka generasi Indonesia akan benar benar emas, bukan malah tambah cemas.

Jadi, mengisi kemerdekaan bukan hanya dengan membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusianya.

Bukan hanya membangun badan, tetapi terlebih dahulu membangun jiwa.

Bukan hanya mencerdaskan pikiran, melainkan juga membimbing hati dan akhlak.

Sebab bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang maju secara fisik, tetapi bangsa yang manusia-manusianya memiliki iman, ketakwaan, ilmu, amal saleh, dan akhlak mulia.

DIRGAHAYU INDONESIA

Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Bangunlah manusianya
Bangunlah bangsanya

Merdeka bangsanya.
Bertakwa jiwanya.
Baik kehidupannya.
Mulia akhlaknya.



AL-FATIHAH: DIBACA, DIPAHAMI, DAN DIJALANIAl-Fatihatul Kitab, pembuka atau pengantar menuju Al-Kitab.Jika Al-Fatihah ada...
16/08/2026

AL-FATIHAH: DIBACA, DIPAHAMI, DAN DIJALANI

Al-Fatihatul Kitab, pembuka atau pengantar menuju Al-Kitab.

Jika Al-Fatihah adalah pembuka, maka Al-Baqarah hingga An-Nas adalah rangkaian Al-Kitab yang Allah tegaskan:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ فِيهِ

“Kitab (Al-Qur’an) itu tidak ada keraguan padanya.”
(QS. Al-Baqarah: 2)

Menariknya, Al-Fatihah adalah surat yang paling sering kita baca. Dalam sehari, kita membacanya minimal 17 kali dalam sholat.

Lalu, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah 17 kali itu hanya benar dalam membunyikannya?
Apakah sudah benar dalam memahaminya?
Dan yang lebih penting, apakah sudah benar dalam menjalaninya?

Karena Al-Qur’an bukan hanya untuk indah dibaca, tetapi juga untuk dipahami petunjuknya dan dijalani kehidupannya.

InsyaAllah, kami tidak hanya mengajak santri dan wali santri belajar membunyikan dan memahami Al-Fatihah melalui tadabbur, tetapi juga mengkajinya dengan metode khas: menemukan pesan ayat melalui ayat-ayat Al-Qur’an.

Harapannya sederhana:

Semoga ayah dan bunda menjadi guru pertama surat Al-Fatihah bagi buah hati.

Sebab ketika seorang anak terus melantunkan Al-Fatihah yang dahulu diajarkan oleh orang tuanya, semoga setiap huruf yang dibaca menjadi aliran kebaikan yang terus mengalir.

AL-QUR’AN:
Indah dibunyikan.
Mudah dipahami.
Mulia dijalani.

Mari bersama-sama membesarkan Al-Qur’an dalam hati, menguatkan pemahamannya, dan menghadirkannya dalam kehidupan.

Karena membaca Al-Qur’an adalah awal perjalanan. Memahami adalah langkah berikutnya. Dan menjalankannya adalah tujuan.



Menghafal Al-Qur'an: Menanam Benih, Bukan Memanen BuahBanyak orang tua bertanya,"Apakah ada perintah agar anak-anak meng...
07/08/2026

Menghafal Al-Qur'an: Menanam Benih, Bukan Memanen Buah

Banyak orang tua bertanya,

"Apakah ada perintah agar anak-anak menghafal Al-Qur'an sebanyak-banyaknya?"

Pertanyaan ini penting. Namun, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting lagi:

Mengapa anak-anak perlu menghafal Al-Qur'an?

Al-Qur'an memberi kita petunjuk melalui kisah ibu Nabi Musa.

Allah berfirman,

وأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا ۖ إِن كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَن رَّبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan menjadi kosonglah fuad (memori) ibu Musa. Hampir saja dia menyatakan (rahasia tentang Musa), sekiranya tidak Kami teguhkan qalb (hatinya), agar dia termasuk orang-orang yang beriman."
(QS. Al-Qashash: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah membedakan antara fuad dan qalb.

Fuad (memori) adalah tempat menyimpan apa yang kita dengar, lihat, baca, dan hafal. Sedangkan qalb (berpikir) adalah tempat mengambil keputusan: menerima atau menolak, beriman atau mengingkari.

Di sinilah letak hikmah menghafalkan Al-Qur'an kepada anak-anak.

Masa kecil adalah masa terbaik untuk memenuhi fuad dengan kosakata Al-Qur'an. Setiap ayat yang dihafal adalah benih yang ditanam dalam memori. Mungkin hari ini anak belum memahami seluruh maknanya. Namun, benih itu tetap hidup.

Suatu saat, ketika hati (berpikirnya) matang dan disentuh hidayah, ayat-ayat itu akan tumbuh menjadi cahaya yang membimbing hidupnya.

Karena itu, jangan menganggap hafalan sebagai tujuan akhir.

Menghafal adalah proses menanam. Tadabbur adalah proses menumbuhkan. Mengamalkan adalah proses memanen.

Tanpa hafalan, hati akan kekurangan bahan untuk ditadabburi. Namun tanpa tadabbur, hafalan hanya akan menjadi kump**an kata yang tersimpan dalam memori.

Allah juga berfirman,

فمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

"Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka."
(QS. Ṭoha: 123)

Dan Allah memerintahkan,

وأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ

"Dan agar aku membacakan Al-Qur'an. Maka barang siapa mendapat petunjuk, sesungguhnya petunjuk itu untuk dirinya sendiri."

(QS. An-Naml: 92)

Jadi menghafal Al Quran sama dengan membaca (tilawah), masih sebatas proses menyimpan Al Quran ke Fuad (memori). Dan hukum tentang itu adalah bagian perintah langsung dari Allah ta'ala (fardhu).

Membaca, menghafal, mentadabburi, lalu mengamalkan. Itulah perjalanan Al-Qur'an di dalam diri seorang mukmin.

Maka, wahai Ayah dan Bunda, jangan hanya bangga ketika anak mampu menyelesaikan 30 juz. Banggalah ketika ayat-ayat yang dihafalnya mulai membentuk akhlaknya, menjaga lisannya, menguatkan imannya, dan mengarahkan setiap langkahnya.

Sebab tujuan Al-Qur'an bukan sekadar memenuhi Fuad (memori), tetapi menghidupkan hati (pikiran). Bukan sekadar melahirkan penghafal, tetapi melahirkan generasi yang berpikir, bersikap, dan beradab dengan Al-Qur'an.

Itulah awal lahirnya Peradaban Qurani, dari satu anak, yang fuad (memori) dan hati (akal berpikirnya) yang dipenuhi cahaya wahyu.




08/07/2026

Wahai Ayah dan Bunda... Setelah Kita Tiada, Apa yang Masih Mengalir untuk Kita?

Suatu hari nanti, akan datang waktu ketika rumah ini tetap berdiri, tetapi kita sudah tidak lagi berada di dalamnya.

Suara kita tak lagi terdengar. Tangan kita tak lagi menggenggam anak-anak. Nama kita hanya tinggal doa, kenangan, dan tulisan di batu nisan.

Namun, benarkah saat itu semua telah selesai?

Ternyata tidak

Allah berfirman:
اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْ

"Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan." (QS. Yasin: 12)

Ayah... Bunda...

Ternyata Allah tidak hanya mencatat apa yang kita lakukan ketika hidup. Allah juga mencatat atsar, jejak, pengaruh, dan warisan yang terus hidup setelah kita meninggal.

Mungkin suatu hari nanti, ketika kita sudah berada di alam kubur, anak kita bangun sebelum Subuh karena dulu kita membiasakannya shalat. Setiap rakaat yang ia dirikan, setiap ayat Al-Qur'an yang ia baca, setiap sedekah yang ia keluarkan karena didikan kita, semuanya bisa menjadi cahaya yang terus mengalir kepada kita.

Sebaliknya, jika yang kita wariskan adalah kemarahan, kelalaian terhadap Al-Qur'an, atau kebiasaan meninggalkan salat, lalu semua itu diteruskan oleh anak-anak kita, maka jejak itu pun tidak berhenti saat kita meninggal.

Betapa menggetarkannya...

Boleh jadi nanti di Hari Kebangkitan, kita terkejut melihat timbangan amal yang begitu berat dengan pahala yang tidak pernah kita ingat pernah mengerjakannya. Ternyata itu adalah hasil dari anak yang terus berbakti, cucu yang mencintai Al-Qur'an, atau seseorang yang mendapatkan hidayah melalui kebaikan yang pernah kita tanam.

Atau sebaliknya, kita terkejut melihat dosa yang terus bertambah karena jejak keburukan yang kita tinggalkan.

Allah mengingatkan:
لِيَحْمِلُوْٓا اَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۙوَمِنْ اَوْزَارِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَزِرُوْنَ

"Agar mereka memikul dosa-dosanya secara sempurna pada hari Kiamat, dan juga sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan..." (QS. An-Nahl: 25)

Karena itu, tugas terbesar orang tua bukan hanya memastikan anak-anak kenyang, bersekolah, atau memiliki masa depan yang baik di dunia.

Tugas terbesar kita adalah meninggalkan jejak iman.

Warisan terbaik bukan rumah yang megah, kendaraan yang mewah, atau tabungan yang melimpah. Semua itu suatu hari akan habis.

Tetapi jika kita mewariskan cinta kepada Allah, cinta kepada Al-Qur'an, akhlak yang mulia, dan kebiasaan beribadah, maka warisan itu akan terus hidup, bahkan ketika nama kita mulai dilupakan.

Maka, sebelum terlambat, mari bertanya kepada diri sendiri:

Jika malam ini Allah memanggil kita p**ang... apakah anak-anak kita akan menjadi sumber pahala yang terus mengalir, atau justru menjadi jejak yang memberatkan timbangan amal kita?

Semoga Allah menjadikan setiap ayah dan bunda sebagai penanam kebaikan yang buahnya terus dipanen hingga Hari Kiamat.

Ya Allah, jangan putuskan cahaya amal kami. Jadikan anak-anak kami penyejuk mata, pewaris iman, dan pengalir pahala bagi kami hingga kami bertemu dengan-Mu. Aamiin.


25/06/2026

LURUS... TAPI SERING TERASA DITINGGALKAN.

Berjalan lurus…
secara teori adalah jalan mulus dan singkat.
Namun dalam realitas kehidupan… bukan garis tanpa rintangan.
Ia adalah ujian panjang yang menguji iman, kesabaran, dan keteguhan.

Justru mereka yang paling lurus jalannya…
seringkali paling berat ujiannya.

Lihatlah Nabi Musa…
Seorang rasul yang membawa Taurat, membawa cahaya kebenaran.
Namun kaumnya tetap membangkang, hingga hatinya mengadu kepada Allah:

QS. Al-Ma'idah: 25

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ لَآ اَمْلِكُ اِلَّا نَفْسِيْ وَاَخِيْ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ

"Dia (Musa) berkata, 'Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Maka pisahkanlah antara kami dan orang-orang yang fasik itu.'"

Ini bukan sekadar doa…
ini adalah kepedihan seorang nabi yang berjalan lurus… namun tidak diikuti.

Lihat p**a Nabi Nuh…
Hampir seribu tahun berdakwah… siang dan malam…
namun hanya sedikit yang beriman.

Hingga keluar doa yang begitu berat:

QS. Nuh: 26

وَقَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ دَيَّارًا

"Dan Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.'"

Betapa panjang kesabaran itu…. dan betapa dalam luka perjuangan itu.

Dan kita… umat Nabi Muhammad…

Apakah kita benar-benar menjaga apa yang beliau bawa?

Allah mengabadikan keluhan Rasulullah:

QS. Al-Furqan: 30

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

"Dan Rasul berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.'"

Bukan ditolak…
tapi ditinggalkan.

Tidak dimusuhi…
tapi tidak dijadikan pedoman.

Dihafal, tapi tidak dihidupkan.

Padahal Allah telah memberi peringatan:

QS. Al-Isra: 9

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ

"Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus."

Dan jalan lurus itu yang selalu kita minta setiap hari.

QS. Al-Fatihah: 6

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

"Tunjukilah kami jalan yang lurus."

Namun jalan lurus… bukan jalan yang mulus.

Ia adalah jalan para nabi:
panjang… sepi… penuh penolakan…
bahkan terkadang terlihat “tidak berhasil” di mata manusia.

Tapi hakikatnya…
itulah jalan yang paling benar.

Maka jangan takut berjalan lurus…
meski terasa lambat…
meski terasa sendiri…
meski dunia tidak mengerti.

Karena yang dinilai bukan seberapa cepat kita sampai…
tetapi apakah kita tetap istiqamah di jalanNya hingga akhir hayat.

Allahumarhamna bil Quran..



AR-RAHMAN YANG MENGAJARKAN AL-QUR’ANAllah tidak memulai Surah Ar-Rahman dengan penciptaan manusia.Allah juga tidak memul...
23/06/2026

AR-RAHMAN YANG MENGAJARKAN AL-QUR’AN

Allah tidak memulai Surah Ar-Rahman dengan penciptaan manusia.
Allah juga tidak memulainya dengan langit, bumi, atau nikmat dunia.

Allah memulainya dengan satu hal :

ٱلرَّحۡمَـٰنُ ۝ عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ

"Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih, mengajarkan Al-Qur’an."

Seolah Allah ingin menunjukkan bahwa rahmat terbesar bukanlah harta, tahta, kata dan cinta (pop**aritas), melainkan petunjuk (Al Quran).

Karena tanpa petunjuk, manusia bisa hidup tetapi kehilangan arah.

Menariknya, Allah mendahulukan : “mengajarkan Al-Qur’an” sebelum “menciptakan manusia.”

خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ ۝ عَلَّمَهُ ٱلۡبَیَانَ

Ini memberi isyarat bahwa sebelum manusia memahami realitas kehidupan dunia dan pembelajaran, manusia lebih dahulu membutuhkan wahyu (Al-Quran).

Karena Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan dan bunyian, tetapi juga cahaya yang mengajarkan manusia :
- cara berpikir
- cara memahami realitas kehidupan
- cara melihat kebenaran

Dan itulah yang disebut *Al-Bayan*.

Hari ini manusia memiliki banyak ilmu, tetapi sering kehilangan makna.

Banyak yang mampu berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar memahami.

Padahal Ar-Rahman telah mengajarkan Al-Qur’an agar manusia tidak hanya cerdas tetapi juga tercahayai.

Karena ilmu tanpa wahyu bisa melahirkan kesombongan. Sedangkan Al-Qur’an melahirkan kesadaran (deepest why) bahwa seluruh ilmu pada akhirnya harus membawa manusia mengenal Allah ta'ala.

Maka pendidikan sejati bukan sekadar memindahkan pengetahuan, tetapi menyambungkan manusia dengan petunjuk Allah ta'ala.

Sebab ketika Al-Qur’an tidak lagi menjadi pusat pembelajaran, manusia mungkin maju dalam teknologi, sayangnya mundur dalam makna dan hikmah.

Dan itulah sebabnya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman
sebelum mengatakan: “mengajarkan Al-Qur’an.”

Karena Al-Qur’an adalah petunjuk dan kasih sayang Allah terbesar untuk manusia.



الحمد الله الذي بنعمته تتم الصالحاتHari ini telah mentasmi'kan Juz 6 (QS. An-Nisa : 148 s.d. Al-Maidah : 81)Ananda :MUHA...
21/06/2026

الحمد الله الذي بنعمته تتم الصالحات

Hari ini telah mentasmi'kan
Juz 6 (QS. An-Nisa : 148 s.d. Al-Maidah : 81)

Ananda :
MUHAMMAD AL FATIH
Bin Naliarto

Kelas Kuttab Qonun 2

Guru Qur'an :
Ustadzah Kultsum

بارك الله عليكم

Semoga Allah ta'ala senantiasa menumbuhsuburkan kecintaan Ananda terhadap Al Qur'anul Kariim, serta menjadi penjaga dan pengamal Al Qur'an yang ikhlas, sabar, dan tawadhu'.

Semoga berlimpah keberkahan bagi kedua orang tua dan para guru tercinta. _Aamiin allahumma aamiin.

اللهم ارحمنا بااقرانالحمد الله الذي بنعمته تتم الصالحات

Hari ini telah mentasmi'kan
Juz 6 (QS. An-Nisa : 148 s.d. Al-Maidah : 81)

Ananda :
MUHAMMAD AL FATIH
Bin Naliarto

Kelas Kuttab Qonun 2

Guru Qur'an :
Ustadzah Kultsum

بارك الله عليكم

Semoga Allah ta'ala senantiasa menumbuhsuburkan kecintaan Ananda terhadap Al Qur'anul Kariim, serta menjadi penjaga dan pengamal Al Qur'an yang ikhlas, sabar, dan tawadhu'.

Semoga berlimpah keberkahan bagi kedua orang tua dan para guru tercinta. _Aamiin allahumma aamiin.

اللهم ارحمنا بااقران

Address

Hong Kong

Telephone

+85228800416

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when RumahTahfidz Gemilang Al Furqon posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share