30/05/2024
FAKTOR X VERSUS PROTAP
Faktor X melampaui Protap" (Kis. 27:1-44).
Ini pelayaran Paulus yang cukup berat. Ia harus ke Italia utk naik banding kpd Kaisar. Ya, ia berlayar sbg tawanan. Bersama dia ada juga tawanan-tawanan lain. Tidak mudah perjalanan itu. "...kami hampir-hampir tidak maju dan dengan susah payah kami mendekati Knidus..."(ayat 7). ,Toh mereka berusaha. Mereka tiba di Pelabuhan Indah" (ayat 8). Tetapi waktu sudah banyak hilang. Menurut Protap mestinya mereka tiba tepat waktu. Sekarang, malah waktu puasa sudah hilang.
Yang menarik, Paulus tampil memberi nasihat. "Saudara-saudara, aku lihat bhw pelayaran kita akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dan kerugian besar, bukan saja bagi muatan dan kapal tetapi juga nyawa kita." Paulus memberi nasihat? Siapa dia? Dia bukan pelaut, toh berani-beraninya bicara tentang perkara-perkara laut. Apalagi sebagai tawanan. Menurut Protap tawanan tidak boleh bicara. Apalagi memberi nasihat. Karena itu wajarlah kalau perwira pengawal Paulus itu lebih percaya kpd jurumudi dan nahkoda. Ya, wajar karena mereka punya Protap, bgmn menangani kapal yang sedang dalam bahaya. Sesuai dengan Protap, kapal diperintahkan terus berlayar. Mereka ingin tiba cepat di Feniks di p**au Kreta. Mereka ingin tinggal di sana selama musim dingin. Menarik. Seakan-akan Protapnya berlaku. "Pada waktu itu angin sepoi-sepoi bertiup dari selatan. Mereka menyangka bahwa maksud mereka sudah tentu akan tercapai. Mereka membongkar sauh, lalu berlayar dekat sekali menyusur p**au Kreta." (ayat 13). Semua sesuai dengan Protap kan?
Eh, ternyata tidak. Tiba-tiba saja turun puting-beliung. Protapnya kocar-kacir. Kapal bahkan tdk tahan menghadapi angin haluan. Putus asa. Biarkan kapal terombang-ambing. Protap? Boleh jadi. Atau malah sikap fatalistis. Menyerah? Tidak juga. Mereka masih punya sekoci. Ini juga Protap. Turunkan layar. Toh tetap membiarkan kapal terombang-ambing. Protap tidak berlaku lagi. Besoknya mereka membuang muatan. Begitu juga alat-alat kapal ikut dicampakkan. Protap? Laporan Lukas:"'..akhirnya putuslah segala harapan kami utk menyelamatkan diri kami."(ayat 20).
Tetapi di tengah-tengah keputusasaan itu tampil Paulus. Eh, Paulus lagi. Bukan pelaut. Tawanan p**a. Ia berkata:"Saudara-saudara, jika sekiranya nasihatku dituruti, supaya kita jangan berlayar dari Kreta, kita pasti terpelihara dari kesukaran dan kerugian ini." Toh, nasi sdh jadi bubur. Namun ada penghiburan:"Tetapi sekarang, juga dlm kesukaran ini, aku menasihatkan kamu supaya kamu tetap tabah hati, sebab tidak ada seorangppun yang binasa." Ah, tahu dari mana Si Paulus itu. Menurut Protap mesti ada yang binasa atau dibinasakan, dan ada yang selamat. Tahu dari mana? Ada faktor Xnya. Bukan X biasa. Tetapi X BESAR. Itulah Allah, Sang Bapa yang mengintervensi ke dalam berbagai protap kita, bgmnpun rapihnya disusun. Paulus lagi-lagi:"Namun kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu p**au." Wah, ini bukan nasihat dari jurumudi atau nahkoda. Menyalahi Protap lagi, sebab pemberi nasihat bukan seorang profesional. Singkat ceritera, mereka kandas. Lalu, sesuai Protap, orang-orang tawanan harus dibunuh. Tetapi tidak terjadi. Menyalahi Protap lagi. Mengapa? Ada intervensi dari X BESAR itu, Allah, Sang Bapa yang disembah Paulus, yang ditemuinya sebagai Kristus yang bangkit.
Apa pelajaran untuk kita? Mazmur 19 mengatakan, Tuhan mengatasi alam-semesta, dan alam menceriterakan kemuliaan Allah. Juga dalam topan. Ttp Dia juga menghentikannya. Kedua, kita hidup dalam berbagai lembaga yang membutuhkan Protap dan aturan-aturan. Tanpa itu. lembaga tidak berjalan. Tetapi kita jgn ditawan oleh berbagai Protap. Protap bukan segala-galanya. Protap harus berfungsi secara manusiawi. Baru-baru Presiden mengungkapkan bhw kita memiliki 43 ribu aturan yang saling tumpang-tindih dan bertentangan. Protap dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk Protap. Ketiga, kalau ini terjadi maka akan ada Faktor X BESAR yang akan mengintervensi. Untuk itu seyogianyalah kita terbuka kepada intervensi itu. Hanya dengan demikianlah transformasi sejati bisa terjadi.
(Renungan ini disampaikan Pdt. A. A. Yewangoe, pada Kebaktian Rutin Paramount Enterprise, 31 Mei 2016).