09/09/2026
PATRIS ALLEGRO SIAP MENJADI ORANG PROTESTAN
Ternyata si Patris semakin panas. Dia sempatkan menulis kalimat ini dalam tulisannya: "Berikut bedah taktis—tanpa gula—atas teks Doktor Bidat Wanda Dumais."
Lagi-lagi Patris menyebut saya bidat, sebuah kosa kata yang disenangi orang Katolik ketika menjawab argumen Protestan. Mungkin dengan cara ini dia merasa menang 1-0. Saya sih bilang bermimpi dulu sampai kenyang kalau bisa mengalahkan debat dengan Calvinist seperti saya.
Saya mau lihat bedah taktis yang dia sebut. Bahkan emosi Patris naik ke ubun-ubun semakin membakar. Dia sebut saya: Heretik keras kepala.
Saya tidak akan tanggapi apapun selain argumen.
Argumen Patris:
Saya pecah jadi tiga: (A) kesalahan logika dan asumsi keliru, (B) teknik manip**asi retorika, (C) koreksi bukti sejarah yang ia abaikan.
Wanda:
Baik saya akan lihat apakah Patris konsisten.
Argumen Patris:
A) Kesalahan logika & asumsi keliru
Argumentum ex silentio (argumen dari diamnya teks)
“Alkitab bungkam, maka Petrus tidak ke Roma.” Diam ≠ menyangkal. Rasul Yohanes sendiri menyatakan tidak semua hal ditulis (Yoh 21:25). Surat Roma 16 tidak menyapa Petrus bukan bukti “Petrus tak ada di Roma”; itu sekadar tidak disebut. Ini persis fallacy yang Anda tuduhkan tapi Anda praktikkan.
Wanda:
Argumen yang sudah saya jawab dipakai lagi. Sebuah kebiasaan orang Katolik yang tidak punya sumber lain selain mengulang-ulang persis radio rusak.
Gampang sekali menjawab ini:
Keputusan para penulis Perjanjian Baru tidak memasukkan peristiwa sejarah kematian para rasul termasuk rasul Paulus adalah keputusan yang sadar sekali, bukan karena mereka lupa atau bukan karena peristiwa itu akan memenuhi tulisan mereka.
Orang-orang yang berusaha menambal sulam Alkitab selalu menggunakan ayat ini Yohanes 21:25:
"Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu."
Yohanes di dalam ayat tersebut berbicara hal yang lain yaitu catatan mengenai Yesus bukan catatan mengenai kematian para rasul dan rasul Paulus.
Alasan yang tepat mengapa para penulis Perjanjian Baru tidak menulis peristiwa sejarah kematian ke-13 rasul adalah karena Roh Kudus tidak mengilhami mereka untuk menuliskannya.
2 Petrus 1:21
sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.
Para penulis Perjanjian ingin berfokus pada kehidupan ke-13 rasul dalam tulisan-tulisan mereka.
Argumen Patris:
Cherry-picking sumber
Anda memegang keras hanya Injil dan Kisah, lalu menolak konsensus saksi Kristen abad pertama–kedua yang bukan apokrifa: 1 Clement (Roma, ca. 96) menyebut penderitaan Petrus dan Paulus dan mengaitkan dengan Roma; Dionysius dari Korintus (ca. 170, dikutip Eusebius) mengatakan keduanya “mengajar bersama di Italia dan menjadi martir di sana”; Irenaeus (ca. 180) memberi suksesi uskup Roma dari Petrus-Paulus; Tertullianus (awal abad 3) menyebut Roma sebagai tempat “di mana Petrus disalibkan”. Menolak semuanya karena “bukan Alkitab” padahal Anda sendiri mengutip Karl Heussi (abad 20) dan Ehrman (abad 21) adalah standar ganda.
Wanda:
Kenapa menyebut saya standar ganda? Kutipan yang saya pakai mendukung Alkitab artinya mereka tidak keluar dari sumber utama. Mengapa saya harus memakai sumber yang berbeda dengan Alkitab. Saya tidak mengerti jalan pikiran Patris. Kau pikir aku pakai Alkitab lalu duduk bersemedi menunggu wangsit dari sorga? Itulah gunanya sekolah, supaya kamu bisa belajar membaca dan menulis bukan hanya mengulang 1 Clement 5, Dionysius dari Korintus, Eusebius, Iranaeus, Tertullian.
Untuk menyenangkan Patris saya sertakan referensi yang membuat para Katolik bergembira dan senang. Seperti lagu bilang: "Hati senang walau tidak punya uang":
1 Clement 5:1–7 80–130 CE
Martyrdom & Ascension of Isaiah 4:2–4 100–130 CE
Ignatius of Antioch, Epistle to the Ephesians 12:1–2 110–125 CE
Irenaeus of Lyons, Against the Heresies 3.1.1 c. 174–189 CE
Muratorian Canon 34–39 c. 3rd–4th century CE
Tertullian, Prescription against Heretics 36.2–3 203 CE
Tertullian, Antidote for the Scorpion’s Sting 15.2–3 c. 211–212 CE
Peter of Alexandria, On Repentance/Canonical Epistle 9 306 CE
Lactantius, On the Deaths of the Persecutors 2.5–6 313–316 CE
Papias & Dionysius of Corinth (Quoted in Eusebius) Ecclesiastical History 2.25.5–8 c. 325 CE
Origen of Alexandria (Quoted in Eusebius) Ecclesiastical History 3.1 c. 325 CE
John Chrysostom, Against the Opponents of the Monastic Life 1.3 c. 376 CE
John Chrysostom, On the Praises of Saint Paul 4.15 c. 390 CE
John Chrysostom, Homilies on 2 Timothy 10.1–2 c. 393 CE
John Chrysostom, Homilies on Acts 46 c. 400 CE
Jerome, Tractate on the Psalms 96:10 c. 389–391 CE
Jerome, On Illustrious Men 1, 5 392–393 CE
Silakan Patris pakai referensi yang sudah aku tulis.
Hal yang pasti adalah:
Para penulis Perjanjian Baru memilih tidak menuliskan kematian para Rasul karena tradisi kematian apa pun tidak dapat dipercaya, dan karena alasan ini, mereka mengecualikannya.
Lalu dua abad kemudian setelah Alkitab selesai ditulis, muncullah kisah-kisah kematian para Rasul yang justru membingungkan orang Kristen karena ceritanya saling bertolak belakang dan tidak pernah ada di dalam Alkitab. Legenda-legenda dan catatan-cacatan yang saling setuju dan legenda-legenda serta catatan-catatan yang saling tidak setuju akhirnya bertebaran. Tepatnya di pertengahan abad ke-2 mulai muncul "post-biblical legends and accounts" (legenda-legenda dan catatan-catatan setelah Alkitab Kanon).
Argumen Patris:
Anakronisme metodologis
Meminta gaya penulisan kronik modern dari teks kuno. Para penulis gereja awal tidak menulis “CV tempat tinggal Petrus”; mereka menyimpan memori komunitas (martyria) yang konsisten: Roma = ladang wafat Petrus. Mengukur abad 1–2 dengan kriteria footnote akademik abad 20 adalah anakronistik.
Wanda:
Seperti biasa Patris ini senang memakai istilah yang membuat pembaca Katoliknya mengernyitkan dahi dan berkata: "Hebat Patris! Ternyata Katolik punya juga debater hebat setelah Johann Eck".
*Debat Besar pernah terjadi antara Johann Eck (Roma Katholik) melawan Martin Luther (Protestant) di Leipzig tahun 1519.
Argumen model apa yang Patris bangun setelah tulis "Anakronisme Metodologis".
Saya jelaskan bagi yang awam:
Anachronism adalah kronologi yang inkonsisten.
Lalu argumen Patris seperti ini, saya kutip ulang:
"Meminta gaya penulisan kronik modern dari teks kuno. Para penulis gereja awal tidak menulis “CV tempat tinggal Petrus”; mereka menyimpan memori komunitas (martyria) yang konsisten: Roma = ladang wafat Petrus. Mengukur abad 1–2 dengan kriteria footnote akademik abad 20 adalah anakronistik."
Wanda:
Paulus sendiri menyebut Petrus, rasul kepada orang-orang Yahudi.
Galatia 2:7
Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat?
Bukti awal catatan 1 Clement 5 tidak menyebut Petrus mati di Roma.
Saya sendiri tidak membaca apa yang Patris maksudkan dengan Anachronism. Saya sarankan Patris membaca argumen saya, bukan dengan emosi bidat dan heretik, tapi dengan sabar dan buka otak supaya mengerti.
Argumen Patris:
False dilemma: Alkitab versus Tradisi
Anda menyetel oposisi palsu: seolah bila Tradisi dipakai, Alkitab dibatalkan. 2 Tes 2:15 (yang Anda akui memakai istilah “traditions”) justru meruntuhkan dikotomi itu: pewarisan iman berlangsung lisan dan tertulis—dua arteri dari satu jantung wahyu.
Wanda:
Patris memakai argumen usang, kes**aan Katolik yaitu Tradisi. Kok tidak membaca argumen saya sebelumnya. Orang Kristen awal dari abad 1-3 memakai Tradisi I, penjelasannya sudah saya berikan, tidak akan saya ulang. Baru pada abad ke-4 orang Kristen memakai Tradisi II, yaitu tradisi yang sumbernya di luar Alkitab. Kamu mau pakai tradisi atau sejarah apapun Alkitab tidak akan pernah batal. Justru Alkitab akan menunjukkan betapa sesatnya Tradisi kamu yang melawan Alkitab. Semakin saya menyingkapkan kesesatan gereja Katolik, orang semakin tahu betapa sesatnya gereja Katolik, itu saja. Tentu itu memberikan pilihan kepada jemaat Katolik untuk keluar dari situ seperti yang terjadi pada abad ke-16 saat Reformasi Gereja menggelora.
Argumen Patris:
Moving the goalposts
Saat disodori konsensus patristik, Anda bergeser ke arkeologi grafiti; ketika ditunjukkan temuan nekropolis Vatikan dan “Petros eni,” Anda mengalih ke “ada dua lokasi relik.” Perpindahan relik pada masa penganiayaan Romawi dijelaskan tradisi kuno; bukannya membantah, Anda hanya memindah tiang gawang.
Wanda:
Paus Katolik sendiri yang menjawab apa yang ditemukan dalam arkeologi bukan tulang belulang Petrus.
Pope Pius XII dalam pesan natal 23 Desember 1950 mengatakan bahwa kuburan dari "The Prince of Apostles telah ditemukan", The Prince of Apostles adalah gelar rasul Petrus yang diberikan oleh gereja Roma Katolik. Tapi pada kesempatan yang sama juga Pope Pius XII dengan jujur mengatakan bahwa tulang-tulang manusia yang ditemukan di sekitar kuburan tidak bisa diidentifikasikan sebagai tulang-tulang rasul Petrus.
Kok Patris lancang sekali membantah Pope Pius XII? Kamu yang lancang lalu tuduh saya memindahkan gawang. Seharusnya Patris aminkan kata-kata Paus karena itu adalah "dauh sinuwun/titah raja" yang tidak boleh dilawan.
Yang saya tahu adalah:
Orang Katolik tidak boleh melawan apapun yang sudah ditetapkan "dewan raja" Vatican. Melawan berarti keluar dari gereja Katolik. Sekarang Patris siap menjadi orang Protestan, tinggal tunggu waktu.
Bukti bahwa Petrus meninggal di Roma hanyalah cerita dongeng atau cerita isapan jempol.
Argumen Patris:
Kesalahan gramatikal-historis pada Gal 2:6
Menarik kesimp**an “Petrus sudah mati” hanya karena Paulus memakai bentuk lampau ketika menceritakan peristiwa konsili sebelumnya adalah kekeliruan sintaksis. Narasi lampau ≠ status kematian.
Wanda:
Untuk argumen ini, silakan baca ulang keseluruhan pada tanggapan saya. Tidak perlu diulang.
Argumen Patrus:
Asumsi tanpa dasar: Petrus wafat 55–57
Klaim ini bertentangan dengan data eksternal kuat: penganiayaan Nero (64–67) yang didokumentasikan Tacitus (Ann. 15.44) dan disambungkan sumber Kristen awal dengan kemartiran Petrus dan Paulus di Roma. Menempatkan kematian Petrus nyaris satu dekade sebelumnya butuh bukti lebih dari sekadar opini minoritas abad 20.
Wanda:
Copy dari tulisan saya:
ALKITAB TIDAK MENULIS TENTANG KEMATIAN PETRUS DAN PAULUS
*Jangan Gunakan Argument From Silence
Sebagai catatan saya: kematian Petrus dan Paulus tidak hanya dipercaya pada tahun 64 saja. Banyak catatan yang menuliskan bahwa Petrus meninggal sebelum Paulus yaitu pada tahun 55. Saya sendiri termasuk orang yang memegang teori bahwa Petrus meninggal pada tahun 55.
Kaisar Nero adalah kaisar ke-5 Romawi, memerintah mulai tahun 54 -68.
Sejarahwan Roma Tacitus menulis 50 tahun sesudah kebakaran besar di Roma. Tacitus melaporkan bahwa Kebakaran Besar Roma dimulai bulan Juli 64 di Circus Maximus dan terjadi selama 5 hari (Annals 15.44). Tacitus mengatakan bahwa hampir semua orang menyalahkan Nero karena peristiwa itu, dan Nero menyalahkan orang Kristen, dia membakar mereka dan memberi mereka sebagai umpan hewan buas.
Tapi catatan lain mengatakan:
Orang Kristen saat itu tidak besar dan bukan kelompok yang diperhitungkan, bukan kelompok yang diperhitungkan saat itu, di tahun 64 sehingga menjadi kambinghitam Nero.
Pliny The Younger dalam koresponden dengan Kaisar Trajan tahun 112, mengatakan dia telah mendengar tuduhan mengenai kelompok yang disebut orang Kristen tersebut. Trajan menjawab, dia tidak pernah mendengar tentang kelompok itu (Kristen), padahal 50 tahun sebelumnya katanya Nero mengkambinghitamkan orang Kristen pada Kebakaran Besar kota Roma, sungguh aneh.
Atgumen Patris:
Selective skepticism
Anda skeptis total pada nekropolis dan tradisi Roma, tetapi menerima tanpa verifikasi tafsir minor (Heussi/Katzenmayer) bila cocok dengan kesimp**an Anda. Ini konfirmasi bias klasik.
Wanda:
Patris bilang tafsir yang tidak percaya pada Petrus tinggal di Roma dan martir di Roma adalah tafsir minor. Pada abad Middle Ages, kelompok Waldensians sudah mengajukan argumen tersebut.
Waldensian mengatakan bahwa Alkitab adalah norma tunggal, semua harus ditafsirkan dari Alkitab. Waldensian mengatakan bahwa diamnya Alkitab (mengenai sejarah Petrus pernah tinggal di Roma), sangat menentukan (P. Moneta of Cremona O. P. Adversus Catharos et Waldenses, V, 2, Rome, 1743, p. 411.)
Sejak Waldensian, banyak penulis baik Protestan maupun Katolik mengajukan tafsir yang sama, itu bukan tafsir minor.
Argumen Patris:
😎 Teknik manip**asi retorika
Poisoning the well & ad hominem
Membuka dan menutup dengan label “bidat,” “anak buah,” “kura-kura,” dst. Tujuannya merusak kredibilitas lawan sebelum argumen diperiksa. Itu retorika, bukan data.
Wanda:
Saya menemukan yang pertama menggunakan kata "bidat" adalah Patris dan lalu diulang-ulang sampai tulisan ini, sekarang dia tunjukkan kepada pembacanya dia jadi korban. Kalimat Patris "Itu retorika, bukan data." Orang ini "play victim", setelah dia menyerang saya, dia ternyata tidak s**a diserang. Lempar batu sembunyi tangan.
Argumen Patris:
Strawman
Menyederhanakan posisi Katolik menjadi “sejarah membatalkan Alkitab.” Tak ada yang menyatakan demikian. Posisi yang benar: Alkitab dan Tradisi apostolik bersumber dari pewahyuan yang sama; tradisi awal membantu kita membaca hal-hal yang tak dicatat rinci.
Wanda:
Kalau Tradisimu benar, silakan gunakan sesuai 2 Tesalonika 2:15, jangan main comot ayat dan tafsir seenak jidatmu.
Argumen Patris:
Red herring
Mengalihkan ke sindiran “biskuit Roma,” “doa persembahan,” isu emosi, dll., untuk menjauh dari pokok—apakah ada alasan historis memadai menempatkan Petrus di Roma dan wafat di sana. Humor boleh, tapi itu bukan sanggahan.
Wanda:
Saya sudah menulis banyak argumen bahwa Petrus tidak pernah tinggal di Roma dan tidak pernah mati di Roma. Bagian ini tidak saya tanggapi lagi karena orang ini membaca dengan kacamata kuda.
Argumen Patris:
Equivocation pada kata “Tradisi”
Anda memakai “tradisi” Paulus (2 Tes 2:15) sebagai hanya inspirasi tertulis, lalu menyamakan “tradisi gereja” dengan “dongeng.” Itu penyamaan istilah yang menyesatkan. Tradisi apostolik awal adalah transmisi iman dalam komunitas para saksi—bukan “apokrifa” yang Anda lawan.
Wanda:
Bagian ini sudah saya jawab dan ini juga mengulang argumen Patris diatas. Membosankan.
Argumen Patris:
Gish gallop
Menuang deretan nama sarjana dan potongan klaim (dua lokasi, epigrafi, tanggal alternatif) secara cepat tanpa menguji satu per satu sampai tuntas. Banyak assertion, sedikit substantiation.
C) Koreksi bukti yang diabaikan
Singkat, padat, faktual—ini rangka tulangnya:
Sumber Kristen paling awal pasca-Perjanjian Baru
1 Clement (Roma, ca. 96): menyebut penderitaan Petrus dan Paulus sebagai teladan bagi komunitas Roma—indikasi kuat konteks Roma bagi kemartiran mereka.
Dionysius dari Korintus (ca. 170, via Eusebius): keduanya “mengajar bersama di Italia dan menjadi martir di sana.”
Irenaeus (ca. 180): suksesi uskup Roma “didirikan dan diorganisir oleh para rasul, Petrus dan Paulus” (Adv. Haer. 3.3.2).
Tertullianus (awal abad 3): menyebut Roma sebagai tempat Petrus “menjalani sengsara seperti Tuhannya.”
Gaius presbiter Roma (abad 2/3, via Eusebius): menunjuk “trophies” para rasul di Vatican dan Ostian Way—penanda kultus relik Petrus & Paulus di Roma.
Origen/Clement Alex. (aw. abad 3): tradisi penyaliban terbalik Petrus di Roma.
Wanda:
Lagi-lagi sumber ini yang diajukan. Sumber 1 Clement yang paling awal tidak pernah menyebutkan Petrus mati di Roma. Saya bisa membahas tuntas surat 1 Clement dan saya punya bahannya. Kapan-kapan saya akan posting di fb.
Ada 14 sumber tulisan Kristen awal yang tidak pernah menyebutkan dimana Petrus mati.
Argumen Patris:
Data internal PB yang relevan
1 Ptr 5:13 “Babel” dipakai sebagai kriptogram untuk Roma oleh komunitas Yahudi-Kristen abad 1; ini konsisten dengan pemakaian simbolis sezaman. Tidak membuktikan alamat jalan, tapi selaras dengan tradisi Roma.
Wanda:
Bagian ini sudah saya bahas, tidak perlu dibahas lagi
Argumen Patris:
Arkeologi
Nekropolis Bukit Vatikan (ekskavasi abad 20) mengonfirmasi pemakaman abad 1/2 di bawah Basilika Petrus dan keberadaan grafiti devosi sekitar sebuah “tropaeum” kuno. Perihal tulang: pernyataan Paus Pius XII menahan diri (makam diidentifikasi; relik diperdebatkan), analisis lanjut memapankan atribusi. Poin kuncinya: tempat devosional Petrine di lokasi itu sudah kuno; kekontinuan kultus jauh melampaui perdebatan forensik spesimen.
Wanda:
Bagian ini sudah saya bahas diatas.
Argumen Patris:
Soal “dua lokasi relik”
Tradisi kuno mengenal translasi relik pada masa penganiayaan: relik bisa dipindah sementara (mis. ke catacombs St. Sebastian), lalu dikembalikan. Dua situs tidak = dua Petrus; itu jejak perlindungan relik, bukan kontradiksi.
Wanda:
Sudah saya tanggapi, tidak perlu dibahas. Membosankan.
Argumen Patris:
Soal “mengapa Paulus tak sebut Petrus di Roma 16?”
Argumen dari diam. Banyak nama tidak disebut karena alasan pastoral/praktis. Bisa jadi Petrus tidak berada di kota saat itu, atau statusnya sedemikian rupa hingga tak masuk daftar salam personal Paulus. Diam bukan data negatif.
Wanda:
Ini namanya argumen kongkalikong. Gereja Roma mengakui Petrus dan Paulus dibunuh pada tahun 64 pada saat Nero berkuasa sebagai Kaisar. Ketika disodorkan bukti Alkitab tentang tahun terakhir hidup Paulus yang tidak pernah menyinggung Petrus ada di Roma, gereja Katolik blingsatan, lalu pakai alasan macam-macam. Patris tinggal di Kupang bukti banyak orang Kupang tahu tentang dirinya, dan sebagian orang itu adalah para penanggap fb saya yang pakai bermacam-macam nama samaran.
Argumen Patris:
Tanggal wafat
Spektrum sumber pagan (Tacitus) dan Kristen awal menempatkan gelombang kemartiran di bawah Nero (64–67). Menyisipkan wafat Petrus di 55–57 memaksa penolakan simultan pada 1 Clement, Dionysius, Irenaeus, Tertullianus, dan bukti eksternal Romawi. Itu bukan kritik, itu revisionisme.
Wanda:
Bagian ini sudah saya tanggapi, apabila saya tanggapi lagi akan lebih panjang lagi karena saya punya banyak sumber tentang Petrus meninggal tahun 55.
Penutup Patris:
Ringkasnya
Anda mengandalkan argumen dari diam, cherry-picking, standar ganda, dan retorika personal.
Wanda:
Istilah-istilah Patris ini hanya dia sendiri yang mengerti karena hanya dia yang pakai itu. Semuanya sudah saya sangkal. Patris hanya pakai istilah, dia sendiri tidak mengerti tentang istilah itu
Patris:
Jejak memori gereja perdana—Roma akhir abad 1 hingga awal abad 3—secara konsisten menempatkan Petrus berkarya dan wafat di Roma.
Wanda:
Ini kesimp**an Patris. Alkitab yang selesai ditulis tahun 110 tidak mempunyai kesaksian tentang itu. Petrus, Rasul orang Yahudi kok berkarya dan wafat di Roma. Lalu kita bisa tukar, Paulus rasul untuk orang non Yahudi, berkarya dan wafat di luar Roma. Supaya terjadi pembagian adil dari Galatia 2:7 (gunakan logika terbalik):
Galatia 2:7
Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat?
Patris:
Perdebatan rinci arkeologi tidak menggoyahkan konsensus saksi awal; paling jauh, ia menambah konteks.
Wanda:
Ini argumen yang paling ngawur. Para sarjana telah meneliti tidak cukup bukti literatur untuk memberi kesimp**an Petrus tinggal di Roma dan mati sebagai martir di Roma, satu-satunya yang mungkin bisa mensupportnya adalah bukti penggalian/arkeologi. Patris justru lagi-lagi memakai logika terbalik.
Argumen Patris:
Jika ingin berdebat serius, hentikan sindiran “biskuit” dan ajukan sanggahan substantif terhadap 1 Clement, Dionysius/Eusebius, Irenaeus 3.3.2, Tertullianus, dan kesaksian kultus Petrine di Vatican/Ostian Way—satu per satu. Sampai itu terjadi, retorika Anda tetap terasa nyaring, tapi kosong.
Wanda:
Apa yang kamu kemukakan sudah aku bantah dalam banyak tulisan, mungkin maksudmu "biskuit Roma". Silakan kamu kultuskan Petrus untuk mensupport argumen Petrus Paus Pertama dan sehingga ajaran Paustologi punya kaki meskipun hampir rubuh.
Ternyata akhir argumen Patris tidak ada lagi kata "bidat", betul seperti kata-kata saya, sekarang Patris siap menjadi orang Protestan, tinggal tunggu waktu.
Maranatha Blessings,
Pdt.Dr.Wanda Dumais
WA +61 433 535 015